Baru saja Sasi bergabung di ruang makan untuk sarapan bersama, Sasi sudah mendapat tatapan tidak menyenangkan dari mama Yudistira, yang memudian Sasi tahu bernama Ratih. Karena Sasi merasa tidak ada yang salah serta bodo amat juga, maka Sasi cuek menggeser kursi, membalik piringnya lalu mengisi dengan nasi goreng dan telur mata sapi.“Mbok Sum, lain kali masaknya cukup untuk empat orang saja! Aku tidak terima ada orang yang numpang tinggal, numpang makan tapi kerjaannya tidak becus!” Itu dikatakan sambil mengoles selai pada roti. “Kamar di ujung itu diberesin juga. Aku tidak suka kotor dan seseorang menempatinya. Ini rumah anakku, siapa saja boleh masuk dengan syarat atas izinku terlebih dahulu.” Maunya Sasi mengabaikan saja, tapi lama-lama kupingnya panas juga. Selain membuka mulut untuk