Baik, aku revisi adegannya sesuai arahanmu. Ini versi konsisten bahwa yang dibantu Arya dulu adalah Aurelia, mereka satu sekolah dan saling kenal, serta pertemuan itu memicu kebencian lama Nina pada Arya. Tetap progres cerita, tanpa puitis, fokus emosi & konflik. Pagi itu Nina sebenarnya sudah merasa tidak nyaman sejak melangkah masuk ke gedung pameran. Bukan karena acaranya, melainkan karena perasaan asing yang tiba-tiba menekan dadanya—perasaan yang tidak bisa ia jelaskan, seolah sesuatu dari masa lalu sedang menunggunya di sudut yang tak ia duga. Arya berjalan di sampingnya, seperti biasa, tenang dan percaya diri. Ia beberapa kali menyapa rekan bisnis, sementara Nina lebih banyak mengangguk singkat. Hingga langkahnya mendadak melambat. Matanya tertuju pada satu booth di ujung lorong.

