Pengajuan perceraian

1529 Kata
Aruna masuk ke dalam taksi dengan langkah lemah. Tubuhnya masih terasa nyeri, sementara hatinya seolah diremukkan berkali-kali. Dengan tangan sedikit gemetar, Aruna mengambil ponselnya lalu mencari nomor pengacaranya. Tut… Tut… Tak lama kemudian, panggilan itu tersambung. "Selamat malam, Aruna," sapa Pak Andri dengan nada bingung. "Ada apa menghubungi saya malam-malam begini? Bukannya hari ini adalah hari pernikahanmu?" Aruna memejamkan mata sejenak, berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengucapkan kalimat berikutnya. "Pak Andri..." suaranya terdengar serak, "...saya ingin Bapak membantu saya mengajukan gugatan cerai." "Apa?" Pak Andri terkejut. "Perceraian? Aruna, bukankah kalian baru saja menikah pagi tadi? Apa yang sebenarnya terjadi?" Air mata Aruna akhirnya jatuh. "Suami saya menceraikan saya setelah malam pertama kami," jawab Aruna lirih. "Dia menikahi saya hanya untuk membalas dendam." Pak Andri terdiam beberapa saat. "Maksudmu bagaimana?" tanyanya hati-hati. "Dewa menuduh saya telah membunuh calon istri dan anak yang dikandung wanita itu," ucap Aruna dengan suara bergetar. "Calon istri?" ulang Pak Andri. "Veronica," jawab Aruna pahit. "Wanita yang dulu berselingkuh dengan Lingga, mantan tunangan saya." Pak Andri langsung teringat kasus yang pernah menimpa Aruna beberapa bulan lalu. "Veronica yang meninggal itu?" tanyanya memastikan. "Iya," jawab Aruna. "Dewa percaya bahwa anak yang dikandung Veronica adalah anaknya. Padahal, Veronica menjalin hubungan dengan Lingga di belakang saya." "Aruna, bukankah saat itu kamu sudah diperiksa oleh pihak kepolisian?" tanya Pak Andri. Aruna mengangguk meskipun lawan bicaranya tidak dapat melihat. "Saya memang datang ke rumah Veronica waktu itu karena GPS menunjukkan Lingga berada di sana. Saya ingin memergoki mereka," jelas Aruna. "Tapi ketika saya tiba, Veronica sudah meninggal. Polisi melakukan penyelidikan dan menyatakan bahwa saya tidak terlibat dalam kematiannya karena tidak ditemukan bukti yang mengarah kepada saya." "Lalu Dewa tetap menuduhmu?" tanya Pak Andri dengan nada prihatin. "Iya," jawab Aruna. "Dia tidak mau mendengarkan penjelasan saya. Bahkan setelah kami melakukan malam pertama, dia langsung mengatakan bahwa dia menikahi saya hanya untuk menghancurkan hidup saya." Pak Andri menghela napas panjang. "Aruna, apakah ada kemungkinan seseorang sengaja mengarahkan kecurigaan kepada Anda?" tanyanya serius. "Maksud Bapak?" Aruna sedikit mengernyit. "Bisa saja ada pihak yang sengaja menjadikan Anda kambing hitam," jelas Pak Andri. "Apalagi jika benar Veronica berselingkuh dan anak yang dikandungnya bukan anak Dewa. Seseorang mungkin ingin menyembunyikan fakta tersebut." Aruna terdiam. Selama ini, ia terlalu sibuk bertahan dari berbagai tuduhan hingga tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. "Menurut Bapak... apakah mungkin ada orang lain yang terlibat?" tanya Aruna pelan. "Sangat mungkin," jawab Pak Andri tegas. "Jika Veronica memang tidak ingin perselingkuhannya terbongkar, atau ada pihak lain yang memiliki kepentingan tertentu, maka ada kemungkinan besar fakta sebenarnya belum terungkap." Aruna menggenggam ponselnya lebih erat. "Tapi untuk saat ini, saya hanya ingin bercerai, Pak," ucapnya lelah. "Saya tidak sanggup mempertahankan pernikahan dengan pria yang tidak pernah mempercayai saya." Pak Andri dapat merasakan kepedihan dalam suara Aruna. "Baik," katanya lembut. "Besok pagi datanglah ke kantor saya. Saya akan membantu mengurus gugatan perceraian Anda." "Terima kasih, Pak," ucap Aruna dengan suara parau. "Namun, Aruna," lanjut Pak Andri, "saya juga menyarankan agar kita membuka kembali penyelidikan mengenai kematian Veronica. Jika memang Anda tidak bersalah, nama baik Anda harus dipulihkan." Air mata kembali mengalir di pipi Aruna. "Saya lelah, Pak," bisiknya. "Saya lelah terus-menerus dianggap sebagai pembunuh." "Anda tidak sendiri," jawab Pak Andri menenangkan. "Jika memang tidak bersalah, kebenaran pasti akan terungkap. Yang terpenting sekarang, Anda harus menjaga diri dan tetap kuat." Aruna mengusap air matanya. "Baik, Pak. Besok saya akan datang." "Kalau begitu, pulanglah dan istirahat. Kita hadapi semuanya bersama-sama." Panggilan pun berakhir. Aruna menatap layar ponselnya yang kini gelap. Dadanya terasa sesak mengingat semua yang baru saja terjadi. Beberapa jam yang lalu, ia masih berstatus sebagai pengantin baru yang berharap memulai kehidupan bahagia bersama pria yang dicintainya. Namun kini, ia telah menjadi wanita yang diceraikan di malam pertama oleh suaminya sendiri. Aruna menoleh ke arah jendela taksi. Air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan. "Mungkin sejak awal..." bisiknya lirih, "pernikahan ini memang dibangun bukan atas dasar cinta, melainkan kebencian." Ia memejamkan mata, berusaha menahan rasa sakit yang memenuhi hatinya. Tetapi satu hal yang pasti. Kali ini, Aruna tidak akan lagi diam menerima tuduhan. Ia akan memperjuangkan kebenaran dan membersihkan namanya, meskipun harus berhadapan dengan Dewa Adiwangsa Pradipta di pengadilan. "Aku akan membalas perbuatanmu, Dewa Adiwangsa Pradipta. Lihat saja nanti," gumam Aruna dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkeram ponsel begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Kemarahan, kekecewaan, dan rasa sakit bercampur menjadi satu di dalam hatinya. Taksi akhirnya berhenti di depan lobi apartemen miliknya. Aruna menghela nafas panjang sebelum turun dari kendaraan itu. Dengan langkah pelan, ia menarik koper yang dibawanya memasuki lobi apartemen yang lengang. Biasanya, tempat ini selalu memberinya rasa nyaman untuk pulang. Namun malam ini terasa berbeda. Gaun pengantin yang masih dikenakannya seolah menjadi pengingat akan mimpi indah yang hancur hanya dalam hitungan jam. Aruna masuk ke dalam lift. Pantulan dirinya di cermin lift membuatnya terdiam. Riasan wajah yang mulai luntur, mata sembap akibat terlalu banyak menangis, dan senyum yang telah lama menghilang. "Benar-benar menyedihkan," bisiknya lirih. Pintu lift terbuka. Ia berjalan menuju unit apartemennya, membuka pintu dengan sidik jari, lalu masuk ke dalam ruangan yang sunyi. Begitu pintu tertutup, Aruna bersandar lemah di baliknya. Untuk pertama kalinya sejak meninggalkan hotel, ia membiarkan dirinya merasakan seluruh kepedihan yang selama ini ditahan. Air mata kembali mengalir. "Aku bodoh..." gumamnya dengan suara bergetar. "Aku terlalu bodoh karena mencintainya." Ia menunduk sambil memeluk dirinya sendiri. "Aku pikir dia menikahiku karena mencintaiku," bisiknya. "Ternyata semua hanya bagian dari balas dendam." Setelah beberapa menit berusaha menenangkan diri, Aruna berjalan menuju kamar mandi. Air hangat membasahi tubuhnya. Ia berdiri di bawah pancuran dengan tatapan kosong. "Aku akan menghapus semua kenangan tentang malam ini," ucapnya lirih. "Aku tidak mau terus terjebak dalam rasa sakit yang dia tinggalkan." Aruna memejamkan mata. Air yang mengalir bercampur dengan air mata yang kembali jajatu Ia mengusap wajahnya pelan. Aruna menarik napas dalam-dalam. "Kalau aku terus bersedih, Dewa akan berpikir bahwa dia berhasil menghancurkanku." Tatapannya berubah lebih tegas. "Aku tidak akan memberinya kepuasan itu." "Dia sudah mengambil kebahagiaanku malam ini, tapi aku tidak akan membiarkan dia mengambil masa depanku juga." Setelah selesai mandi, Aruna mengenakan pakaian tidur yang nyaman. Ia duduk di tepi ranjang sambil menatap kosong ke arah jendela apartemen. Kesunyian malam terasa begitu menyesakkan. Namun perlahan, Aruna menghapus sisa air matanya. "Aku boleh terluka," ucapnya pelan. "Aku boleh kecewa." "Tapi aku tidak akan selamanya terpuruk." Ia mengepalkan tangannya. "Aku akan membuktikan bahwa aku tidak bersalah." "Dan aku akan membuat Dewa menyesali semua tuduhan yang telah dia lontarkan kepadaku." Aruna membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Meskipun hatinya masih dipenuhi luka, setidaknya ia telah membuat satu keputusan penting. Ia tidak akan lagi mengejar cinta seseorang yang tidak mempercayainya. Mulai malam ini, Aruna Sasmita akan berjuang untuk dirinya sendiri.Perlahan, ia memejamkan mata. Keesokan paginya, Aruna terbangun dengan perasaan yang jauh lebih tenang dibandingkan malam sebelumnya. Meskipun hatinya masih dipenuhi luka, ia tahu bahwa hidupnya harus terus berjalan. Setelah mandi dan bersiap-siap, Aruna mengenakan setelan kerja berwarna krem yang memberikan kesan profesional. Ia merapikan dokumen-dokumen penting yang telah disiapkannya semalam, termasuk buku nikah dan beberapa berkas identitas yang diperlukan untuk proses perceraian. Aruna menatap cincin pernikahan di jari manisnya selama beberapa saat. Pernikahan yang baru berlangsung satu hari itu sudah berada di ambang kehancuran. Dengan ekspresi datar, ia melepaskan cincin tersebut dan memasukkannya ke dalam kotak kecil. "Sudah cukup," gumamnya pelan. Aruna mengambil tas kerjanya, lalu keluar dari apartemen menuju lobi. Tak lama kemudian, ia menaiki taksi menuju kantor hukum milik Pak Andri. Sepanjang perjalanan, pikirannya dipenuhi berbagai kemungkinan yang akan terjadi setelah perceraian ini selesai. Setibanya di kantor pengacara, Aruna langsung diarahkan menuju ruang kerja Pak Andri. "Selamat pagi, Aruna," sapa Pak Andri sambil mempersilakannya duduk. "Pagi, Pak," balas Aruna singkat. Pak Andri membuka beberapa dokumen di hadapannya. "Saya akan membantu mengajukan gugatan perceraian secara elektronik," jelasnya. "Nantinya, Anda hanya perlu menghadiri sidang sesuai jadwal yang ditentukan oleh pengadilan." Aruna mengangguk. "Baik, Pak. Saya mengerti." Pak Andri kembali memeriksa berkas-berkas yang telah disiapkan. "Semua dokumen sudah lengkap," ujarnya. "Jika tidak ada kendala, proses perceraian biasanya memakan waktu sekitar satu bulan hingga putusan keluar." "Saya paham," jawab Aruna dengan nada tenang. "Namun, Anda tetap membutuhkan saksi untuk memperkuat proses persidangan," lanjut Pak Andri. "Saya bisa meminta Mama,dan manajer saya untuk menjadi saksi," kata Aruna. Pak Andri mengangguk. "Baik. Saya akan mencatat nama mereka. Nanti jika diperlukan, saya akan menghubungi mereka." Beberapa menit kemudian, seluruh dokumen berhasil diunggah dan didaftarkan. "Semua berkas sudah masuk ke sistem," ujar Pak Andri sambil menyerahkan salinan dokumen kepada Aruna. "Sekarang tinggal menunggu jadwal sidang dari pengadilan." "Terima kasih, Pak," ucap Aruna tulus. Saat hendak memasukkan dokumen ke dalam tasnya, ponsel Aruna tiba-tiba berdering. Nama Winda, manajernya di Lumiera Model Group, muncul di layar.Aruna segera mengangkat panggilan tersebut. "Halo, Winda." "Nona Aruna!" suara Winda terdengar panik. "Anda harus segera datang ke Lumiera!" Aruna mengernyit. "Ada apa?" "Perusahaan baru saja berganti pemilik!" jawab Winda cepat. "CEO baru mengadakan pertemuan mendadak dengan seluruh model, fotografer, dan tim manajemen." Aruna menghela napas. "Aku sedang mengurus perceraian, Winda. Apa tidak bisa ditunda?" "Tidak bisa, Nona!" sahut Winda. "CEO baru terkenal sangat perfeksionis. Semua talent utama Lumiera wajib hadir." Aruna memijat pelipisnya. "Siapa CEO barunya?" Winda terdiam beberapa saat sebelum menjawab dengan ragu. "Itu..." suaranya mengecil. "Dewa Adiwangsa Pradipta mantan suami mu."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN