Laura terbangun dengan kepala yang masih terasa berat. Ia mengerjapkan mata beberapa kali, menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk dari jendela kamar tamu. Saat menoleh ke samping, ia melihat jam dinding menunjukkan pukul sembilan pagi. Jantungnya langsung berdegup kencang. Ia terlambat bangun. Laura segera bangkit dari tempat tidur, tetapi rasa pusing membuatnya harus menahan diri sejenak. Tangan kanannya memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Ia menghela napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri, sebelum akhirnya berdiri dengan hati-hati. Regan pasti akan marah. Ia selalu mengharapkan sarapan sudah siap sebelum ia bangun, dan Laura biasanya memastikan semuanya tersedia di meja sebelum pukul tujuh pagi. Tapi kali ini, ia bangun terlambat. Tanpa membuang waktu, Laura me