Callista berjalan cepat, lalu berubah menjadi lari kecil ketika sudah jauh dari koridor tempat ia berhadapan dengan Bima tadi. Nafasnya tersengal, dadanya sesak, dan tangan kanan yang memegang tasnya bergetar hebat. Setiap langkah terasa seperti menghindari bayangan Bima yang masih menatapnya tajam dalam ingatannya. Tatapan yang tidak pernah dia dapatkan dari sosok Bima yang selalu lembut dengannya selama ini. Begitu memasuki gedung kelas, ia tak lagi peduli dengan orang-orang yang melihatnya. Ia langsung menuju kursinya. Tempat sahabat terdekatnya sudah duduk sambil menatap layar laptop. “Aurum,” panggil Callista. Aurum menoleh. Terkejut melihat keadaan Callista. Tanpa sempat menahan diri, Callista menjatuhkan tasnya di meja. Lalu langsung memeluk sahabatnya, Aurum. Begitu kepalanya m

