Bab 06 - Gaun Merah Muda

1102 Kata
“Nenek kenapa?” tanya Aurora yang melihat Neneknya menangis. ”Engga, Nenek ga kenapa-kenapa. Ya sudah kalu gitu kamu mandi terus sarapan ya. Sudah Nenek belikan bubur ayam kesukaan kamu.” ”Bubur ayam? Emangnya Nenek ada uang?” ”Ada sayang. Udah, bersih-bersih sana.” ”Iya, Nek.” Nenek pergi meninggalkan Aurora sendirian di kamarnya. Dengan langkah yang berat dan kepala yang terasa pusing Aurora pergi menuju kamar mandi yang ada di belakang rumahnya. Hari ini Aurora tidak pergi ke kampus. Karena tidak ada jadwal kuliah pada hari ini. Memang ada tiga hari dalam seminggu dimana Aurora tidak perlu datang ke kampus dan bisa beristirahat di rumah. Kali ini Aurora menghabiskan waktunya untuk membantu Neneknya mengerjakan pekerjaan rumah. Mulai dari menyapu, mengepel, cuci baju dan yang lainnya. Drt... Drt... Ponsel Aurora bergetar. Diambilnya ponsel tersebut. Terdapat nama Gresa di ponsel itu. ”Gresa? Iya halo Gres. Kenapa?” ”Lu dimana? Lu jadi ikut acara kampus nanti malam kan?” ”Acara kampus?” ”Lu lupa? Nanti malam kan ada acara malam keakraban di kampus. Acara kita buat anak baru. Masa lu lupa sih. Semua orang nunggu-nunggu malam ini, lu malah lupa.” ”Oh iya. Gue sejujurnya kurang suka acara kaya gitu sih. Kayanya gue ga ikut deh.” ”Apa? Ga ikut? Lu ga takut nanti dikatain sama teman yang lainnya karena lu ga bergaul? Lu emang ga mau punya teman lain selain gue? Nanti malam jam tujuh gue jemput di depan gang rumah lu.” Belum sempat Aurora menjawab, sambungan telepon dimatikan begitu saja oleh Gresa. ”Halo. Gres. Gresa. Ih main dimatiin gitu aja. Gue harus gimana? Gue pakai baju apa nanti malam? Gue ga punya baju bagus buat ke acara itu. Di sana pasti semua orang pakai baju yang bagus dan mahal,” batin Aurora. Aurora terus memikirkan bagaimana nasibnya nanti malam. Raut wajah Aurora tidak bisa di bohongi. Raut wajahnya terlihat tegang dan penuh dengan beban. ”Aurora, kamu kenapa? Kaya lagi banyak pikiran gitu,” tanya Nenek. ”Engga Nek. Aku ga kenapa-kenapa.” ”Kamu itu udah Nenek rawat dari kecil. Nenek tahu gimana kamu kalau lagi ada yang di pikirkan. Ga usah bohong sama Nenek. Cerita aja. Siapa tahu Nenek bisa bantu.” ”Iya, Nek. Jadi gini, nanti malam ada acara di kampus. Nama acaranya malam keakraban. Acara itu untuk mahasiswa baru. Aku dipaksa ikut sama sahabat aku. Bukannya aku ga mau ikut, tapi aku ga punya baju yang layak di pakai untuk acara itu. Karena di sana pasti semua orang pakai baju yang bagus dan mahal.” Aurora menceritakan semuanya ke Neneknya sambil menundukkan kepala. ”Ya sudah kamu ikut aja. Nenek masih simpan baju almarhumah Mamah kamu. Bajunya cantik. Warna merah muda. Pasti cantik kalau dipakai sama kamu.” ”Yang benar Nek?” tanya Aurora dengan raut yang bahagia. Aurora menemukan harapan kali ini untuk bisa ikut ke acara kampusnya. ”Iya sayang. Sebentar Nenek ambil dulu.” Nenek pergi ke kamarnya untuk mengambil baju milik almarhumah Mamah dari Aurora. Kemudian memberikannya kepada Aurora untuk dipakai ke acara kampusnya pada malam ini. ”Ini bajunya. Coba deh,” ucap Nenek sambil memberikan baju tersebut. Gaun cantik berwarna merah muda itu memancarkan kesan lembut dan elegan. Dengan potongan yang elegan serta detail halus yang menambah pesonanya. Warna merah mudanya memberikan nuansa manis dan feminim. Menjadikannya pilihan sempurna untuk tampil memikat di berbagai acara. ”Wah cantik banget Nek gaunnya. Aku suka.” ”Iya kan. Ya sudah coba kamu pakai.” ”Iya, Nek.” Aurora langsung mencoba gaun tersebut dan berputar-putar di depan kaca. Dia merasa sangat cantik dengan gaun tersebut. ”Cocok sayang di badan kamu. Kelihatan cantik,” puji Neneknya. ”Iya, Nek. Aku suka.” Kini Aurora sudah tidak perlu lagi memikirkan bagaimana nasibnya nanti malam. Aurora pun kembali mengerjakan pekerjaan rumah sambil menunggu malam tiba. ***** Waktu sudah menunjukkan pukul 18.30 malam. Aurora sudah siap dengan gaun merah mudanya. Aurora terlihat sangat cantik menggunakan gaun tersebut. Rambutnya terurai rapih. Menambah kesan elegan dan feminim. Aurora terlihat sangat penuh percaya diri. Membuatnya terlihat seperti sosok dari dogeng Cinderella. Mempesona, berwibawa, dan memikat dalam kesederhanaan yang menawan. ”Aku berangkat dulu ya Nek. Temen aku sebentar lagi sampai katanya. Dia nunggu di depan gang,” pamit Aurora kepada Neneknya. ”Iya sayang. Kamu hati-hati ya. Ikut acara kampus seperti ini boleh, tapi jangan ikut-ikutan temen kamu yang nakal ya. Dan jangan pulang larut malam.” ”Iyaa, Nek. Siaap.” Aurora harus berjalan ke depan gang rumahnya. Karena mobil milik Gresa tidak masuk mobil. Ditambah ini adalah pengalaman pertama Gresa pergi ke rumah Aurora. Hanya modal google maps dan akhirnya Gresa tiba di tempat tersebut. ”Aurora,” teriak Gresa dari dalam kaca mobilnya. ”Hai,” jawab Aurora sambil melambaikan tangan kanannya. Kemudian Aurora langsung masuk ke dalam mobil. Gresa memperhatikan seluruh tubuh Aurora mulai dari atas kepala hingga ujung kaki. Dia tidak menyangka Aurora bisa berpenampilan cantik seperti malam ini. Sangat berbeda dengan kesehariannya di kampus yang hanya menggunakan pakaian apa adanya. ”Kenapa? Gue kelihatan aneh ya?” tanya Aurora yang merasa sedikit risih karena diperhatikan sedetail itu oleh Gresa. ”Engga, Ra. Justru lu cantik banget malam ini. Gue sampai ga ngenalin lu.” ”Ah bisa aja lu. Ya sudah yuk berangkat.” ”Okee berangkatt.” Gresa pun menancapkan gas mobilnya menuju ke tempat acara. Acara dimulai pada pukul 8 malam. Tetapi setibanya di sana semua orang sudah berkumpul. Bukan hanya mahasiswa baru saja, tetapi mahasiswa lama pun ikut serta dalam acara tersebut. Dengan tujuan untuk mengawasi acara dan menambah keakraban dengan mahasiswa baru. Aurora dan Gresa berjalan berdampingan. Aurora menengok ke kanan dan ke kiri. Melihat semua orang yang ada di sana terlihat sangat cantik dan tampan. Aurora merasa tidak pantas berada di sana. ”Gue kayanya pulang aja deh Gres,” bisik Aurora. ”Dih, kenapa? Baru juga sampai.” ”Gue kayanya ga pantes deh ada di sini.” ”Kenapa lu ngomong gitu? Lu kelihatan cantik banget malam ini. Lu setara sama mereka semua.” ”Engga, gue ga pantes Gres.” ”Udah ah hilangin semua pikiran jelek lu itu. Kita nikmati acara malam ini.” Gresa tidak mempedulikan permintaan Aurora yang mengajaknya pergi dari acara tersebut. Gresa justru pergi meninggalkan Aurora sendirian untuk menyapa teman yang lainnya. ”Gue ke sana sebentar ya.” ”Eh lu mau kemana?” ”Ke sana sebentar aja. Lu pasti ga mau juga kan kalau gue kenalin ke mereka. Lu tunggu sini aja. Jangan kemana-mana. Gue sebentar doang kok.” ”Tapi Gres...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN