Warning Trigger : Ada adengan pelecehan, kekerasan seksual dalam bab ini. Harap bijak dan memahami,semua ini adalah fiksi belaka agar cerita ini lebih menarik untuk dibaca. Damian berjalan mendekati kursi Minarni , lalu dia meletakkan kedua tangannya di pegangan kursi sambil mendesis dengan sorot mata marah “Kamu pasti menganggapku tidak sebanding dengan Bentara. Kamu pasti masih mencintai Bentara karena katamu wajahnya berubah jadi lebih rupawan.” “Apa maksudmu? Bentara itu sudah mempunyai istri dan saat ini aku tidak mencintai siapa-siapa selain diriku sendiri dan anakku. ” Kata Minarni. “Aku tidak lagi akan membiarkan Bentara mendapatkanmu! Kamu adalah milikku! Aku dulu terlalu bodoh dan pengecut, membiarkanmu jatuh dalam pelukan Bentara, padahal aku yang duluan jatuh cinta padamu