Jalanan kota terlihat sepi malam itu Jody berjalan dengan langkah terburu-buru menyusuri gang-gang sempit menuju kawasan pelabuhan tua. Wajahnya yang babak belur terasa begitu perih terkena tetesan air hujan. Namun, rasa sakit fisik itu tak sebanding dengan amarah yang saat ini memenuhi hatinya. "Sialan!" umpat Jody yang benar-benar merasa lelah setelah hampir dua jam lamanya ia berjuang untuk sampai ke tempat itu. Jody tiba di sebuah bangunan tua bekas pabrik tekstil yang sudah lama ditinggalkan. Tempat ini sudah menjadi markas tersembunyi selama bertahun-tahun, tertutup di balik fasade bangunan rusak yang tak pernah dicurigai siapa pun. "Lucas!" Jody mengetuk pintu besi berkarat dengan pola yang sudah ia hafal. Tiga ketukan panjang, dua ketukan pendek. Suara langkah kaki berat terden

