"Welcome, Maxi!" gumam Max pada dirinya sendiri.
Max berdiri di hadapan cermin besar di sebuah penthouse mewah di Jakarta Selatan. Wajahnya yang kasar telah dirapikan oleh seorang penata rambut profesional, janggutnya dipangkas dengan rapi, menyisakan rambut-rambut tipis yang membuat dirinya tetap gahar
Tubuhnya yang kekar dibungkus dengan setelan jas Italian yang mahal. Dari luar, ia terlihat seperti seorang pengusaha muda yang sukses. Namun, matanya masih memancarkan aura dingin yang tidak bisa disembunyikan.
"Sempurna," ujar Fernandez sambil mengamati penampilan terakhir Maxi. "Sekarang kamu benar-benar terlihat seperti seorang taipan muda."
Max menyesuaikan dasinya sambil terus menatap pantulan dirinya. "Jadi, apa langkah pertama?"
"Kamu akan memulai dengan membangun perusahaan teknologi. Aku sudah menyiapkan tim ahli yang akan membantumu," Fernandez menyerahkan sebuah tablet. "Perusahaan ini akan menjadi topeng untuk memulai rencana yang lebih besar."
Di layar tablet, Max melihat proposal bisnis yang sangat detail. Perusahaan bernama "Apex Technology" yang akan bergerak di bidang aplikasi mobile dan solusi digital untuk perusahaan besar. Modal awal yang tersedia mencapai 500 miliar rupiah.
"Kenapa teknologi?" tanya Max.
"Karena teknologi adalah masa depan. Dan yang lebih penting, teknologi bisa menembus setiap aspek kehidupan seseorang," Fernandez tersenyum sinis. "Kamu akan memulai dengan menjadi kompetitor Anggara Buildings. Perlahan-lahan, kamu akan menggerogoti bisnis mereka."
Max mengangguk. Pikirannya sudah mulai bekerja, merencanakan strategi yang akan ia gunakan.
"Tapi ingat," lanjut Fernandez dengan nada yang lebih serius. "Kamu tidak boleh terburu-buru. Mereka tidak boleh menyadari siapa dirimu yang sebenarnya sampai saatnya tiba."
"Aku mengerti."
"Baik. Besok kamu akan menghadiri sebuah gala dinner untuk pengusaha muda. Jody dan Nadine akan ada di sana. Itu akan menjadi pertemuan pertamamu dengan mereka setelah tujuh tahun."
Jantung Max berdebar, bukan karena takut, tapi karena amarahnya yang telah lama terpendam. Setelah tujuh tahun menunggu, akhirnya saat yang ia nantikan akan tiba.
"Mereka? Ada di sana?" tanya Max.
"Termasuk Dani, ayahmu," jawab Fernandez.
"Apakah mereka tidak akan mengenaliku?" tanya Max lagi.
Fernandez menatap dalam ke arah Max. "Kurasa tidak, tapi seandainya pun mereka mengenalimu, tentu dalam pikiran yang berbeda."
"Baiklah," ucap Max pada akhirnya.
--
Ballroom Hotel Arrus dipenuhi dengan para elit bisnis Indonesia. Lampu kristal bersinar terang, dan musik klasik mengalun lembut di latar belakang. Para tamu berpakaian formal berjalan-jalan sambil menikmati wine dan membicarakan berbagai kesempatan bisnis.
Max memasuki ruangan dengan penuh percaya diri. Setelan Armani hitamnya membuat ia tampak menawan, dan auranya yang kuat membuat beberapa orang menoleh ke arahnya. Ia bukan lagi sosok yang lemah dan mudah diintimidasi.
"Selamat datang di Jakarta Business Young Leader Gala," sapa seorang wanita cantik berambut pirang yang menghampiri Max. "Saya Vero, dari komite acara. Sepertinya saya belum pernah melihat Anda sebelumnya."
"Maxi," jawab Max sambil menjabat tangan wanita itu. "Maxime Leonard. Saya baru saja pindah dari Singapura."
"Oh, bisnis apa yang Anda jalani?"
"Teknologi. Saya baru saja meluncurkan Apex Technology."
Mata Vero berbinar. "Menarik! Kami membutuhkan lebih banyak inovasi teknologi di Indonesia."
Sementara Max berbincang dengan Vero, matanya menyapu ruangan untuk mencari target utamanya. Dan kemudian, ia melihat mereka.
Di sudut ruangan, berdiri Jody dengan setelan putih yang mencolok, tangan kanannya merangkul seorang wanita berambut panjang berpakaian gaun merah menyala.
"Jesica!" desisnya.
Max merasakan darah dalam tubuhnya mendidih. Tujuh tahun penderitaan, tujuh tahun kesakitan, dan kini ia harus melihat ini. Jesica, wanita yang dulu pernah menjalin kasih dengannya, kini berpaling dan justru bergelendot manja di lengan adik tirinya.
"Mr. Maxime? Anda baik-baik saja?" tanya Vero, menyadari perubahan ekspresi di wajah Max.
"Ya, saya baik-baik saja," Max tersenyum, meski mata masih terfokus pada Jody dan Jesica di sana.
"Oh, Anda melihat pasangan itu rupanya? Tuan Jody adalah putra dari salah satu keluarga paling berpengaruh di Indonesia. Dia berasal dari keluarga Anggara, dan Tuan Jody baru saja mengambil alih perusahaan keluarga setelah ...."
"Setelah apa?" tanya Max, meskipun ia sudah tahu jawabannya.
"Setelah kakak tirinya menghilang beberapa tahun yang lalu. Skandal yang cukup besar waktu itu."
Max mengepalkan tangannya di balik punggung. "Skandal?"
"Ya, Rafael Anggara. Katanya dia terlibat korupsi dan penipuan besar. Penggelapan dana perusahaan dan percobaan pembunuhan terhadap pamannya sendiri. Sejak saat itulah pelilik Anggara Buildings memutuskan untuk membuang dirinya dari keluarga Anggara." Vero berbisik seperti sedang membicarakan gosip.
"Menarik," gumam Max.
Jadi mereka bahkan menyebarkan fitnah tentang dirinya. Ini membuat rencananya untuk membalas dendam menjadi semakin berkobar.
"Anda ingin saya perkenalkan?" tawar Vero.
"Tentu saja."
Veronica membimbing Maxi melintasi ruangan menuju ke tempat di mana Jody dan Jesica berdiri. Setiap langkah yang diambil Max terasa seperti langkah yang telah ia persiapkan selama tujuh tahun.
"Tuan Jody," sapa Vero dengan ceria. "Saya ingin memperkenalkan Anda dengan seorang pengusaha muda yang menjanjikan. Beliau adalah Mr. Maxime Leonard, dari Apex Technology."
Jody menoleh dan mengulurkan tangannya. "Senang bertemu dengan Anda, Max. Saya Jody Anggara."
Maxi menjabat tangan Jody dengan senyum yang terkontrol. Untuk sesaat, ia melihat kilatan aneh di mata Jody, seolah-olah ada sesuatu yang familiar. Tapi kemudian ekspresi itu menghilang.
"Senang bertemu dengan Anda juga, Tuan Anggara," jawab Max dengan suara yang telah ia latih agar terdengar berbeda dari suara Rafael yang dulu.
Jesica tersenyum manis dan ikut menjabat tangan Max. "Apex Technology? Sepertinya saya pernah mendengar nama itu."
"Mungkin karena kami baru saja meluncurkan kampanye marketing yang cukup agresif," jawab Max sambil menatap wajah Jesica. Wanita yang dulu pernah ia cintai, yang dulu ia pikir akan menemaninya selamanya, kini berdiri di hadapannya sebagai kekasih dari adik tirinya.
"Bisnis apa yang Anda jalani?" tanya Jody.
"Solusi teknologi untuk perusahaan besar. Kami membantu perusahaan-perusahaan baik lokal maupun mancanegara untuk bertransformasi digital," Max menjawab dengan lancar. "Mungkin Anggara Group tertarik untuk bekerja sama?"
Jody tertawa. "Kami sudah memiliki divisi IT internal yang cukup solid."
"Tentu saja. Tapi terkadang perspektif luar bisa memberikan inovasi yang tidak terduga," Max tersenyum. "Saya tidak memaksa, tapi jika Anda berubah pikiran, saya akan senang untuk berdiskusi."
"Kami akan mempertimbangkannya," jawab Jesica sambil menatap Max dengan seksama.
Percakapan berlanjut selama beberapa menit. Max sangat berhati-hati dengan setiap kata yang ia ucapkan, memastikan bahwa tidak ada yang bisa mengaitkannya dengan Rafael yang dulu. Ia berperan sebagai seorang pengusaha yang percaya diri dan ambisius, yang baru saja masuk ke pasar Indonesia.
"Ngomong-ngomong, Anda dari mana asalnya?" tanya Jody tiba-tiba.
"Saya lahir di Jakarta, tapi menghabiskan sebagian besar hidup saya di luar negeri. Singapura, Amerika, Eropa," jawab Max dengan tenang. "Baru sekarang saya memutuskan untuk kembali dan membangun bisnis di Indonesia."
"Menarik. Keluarga Anda juga di bisnis?"
"Saya tidak punya keluarga," jawab Max dingin. "Saya membangun semuanya dari nol."
Jesica terlihat sedikit terpana mendengarnya. "Maaf."
"Tidak apa-apa. Justru itu yang membuat saya kuat," Max tersenyum. "Ketika tidak ada yang bisa Anda andalkan kecuali diri sendiri, Anda akan menemukan kekuatan yang tidak pernah Anda bayangkan."
Jody mengangguk. "Saya menghargai dedikasi orang seperti Anda. Mungkin kita memang bisa bekerja sama suatu hari nanti."
"Saya sangat berharap demikian," jawab Max.
Setelah beberapa menit bercakap-cakap, Max berpamitan dengan sopan. "Terima kasih atas waktu Anda. Saya berharap kita bisa bertemu lagi dalam waktu dekat."
"Tentu saja," jawab Jody sambil memberikan kartu nama. "Jangan ragu untuk menghubungi saya."
Max menerima kartu nama itu dan memberikan miliknya. "Terima kasih."
Ketika Max berjalan menjauh, Jesica berbisik pada Jody. "Sepertinya aku pernah melihatnya, tapi di mana?"
"Di mana?"
"Entahlah. Matanya ... aku seperti mengenalnya."