Hujan turun pelan, menimpa reruntuhan dan besi panas yang baru saja terbakar. Bau darah bercampur dengan aroma logam dan asap, menciptakan kabut tipis yang membuat dunia di sekeliling mereka seolah berdenyut hidup. Max berlutut di tanah, memegangi bahu Romi yang terkulai. Darah mengalir deras dari lengannya, bercampur dengan lumpur yang menghitam. “Bertahan, Romi! Dengar aku—bertahan!” Romi mencoba tersenyum, tapi bibirnya hanya bergetar. “Aku... masih bisa berdiri, tapi... kurasa separuh tubuhku sudah bukan milikku lagi.” Suara Romi bergetar, tapi matanya tetap tajam, tak kehilangan dingin yang selalu ia miliki. Alesha berlutut cepat di sampingnya, wajahnya tegang tapi penuh fokus. Tangannya bergerak cepat—menyobek kain dari bajunya sendiri, menekan luka di sisi d**a Romi. “Diam. Ja

