“Dan kau hanya diam saja dan membiarkannya?” Prajurit itu gemetar. “Kami tidak bisa menembak, Tuan. Kabut tebal membuat sinyal mereka tidak terdeteksi. Kami kehilangan—” Dor! Peluru melesat cepat menembus meja yang berjarak hanya beberapa sentimeter dari kaki prajurit itu. Dani bahkan sama sekali tak mengangkat wajahnya. Ia menodongkan pistol kecil ke lantai, matanya tetap menatap keluar jendela, ke arah kota yang tertutup hujan. “Kalimat berikutnya yang keluar dari mulutmu adalah solusi. Bukan alasan.” Prajurit itu bergetar hebat, menunduk dalam-dalam. “Kami ... kami akan menyiapkan tim baru, Tuan. Sigma sudah hancur, tapi Unit Cerberus siap dikerahkan dalam dua belas jam.” Dani sama sekali tak menjawab. Ia menatap pantulan dirinya di jendela. Tampak di sana seraut wajah tua denga

