Author POV
“Ya Tuhan … kenapa kelas sudah penuh gini, sih?? Perasaan kita nggak terlambat balik deh,” cerocos Ruri, saat tiba di ambang pintu yang menjadi kelas—bersama dua sahabatnya, terlihat sudah penuh. Sean, dan Dian yang masih berdiri di belakang punggung Ruri yang cukup lebar—melongokkan kepala ke dalam.
“Ih … iya udah penuh nih,” sahut Dian membenarkan, setelah sepasang netra gadis itu menyusur seluruh bagian dalam kelas.
“Ya udah … ayo masuk. Cari saja kursi yang tersisa,” saran Sean, yang sudah memiringkan tubuh, lalu melipir masuk ke dalam kelas.
Pintu ganda kelas hanya dibuka satu, hingga tidak bisa membuatnya masuk dengan leluasa, sementara masih ada tubuh Ruri yang menghalangi. Ruri berdecak, namun tetap mengikuti langkah kaki Sean masuk ke dalam kelas. Di susul Dian di belakangnya.
“Suit … suit … cewek! Sini … duduk sini bareng abang!”
Tiga pasang mata yang masih menyisir satu per satu baris untuk mendapatkan tempat duduk kosong itu, serempak menoleh ke arah suara berasal. Seorang siswa laki-laki dengan dahi lebar mengkilat, nyengir ke arah ketiganya. Sebelah tangan cowok itu menepuk mejanya.
Sean menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masih menganga. “Sepertinya memang cuma di sana yang masih kosong,” ujar Sean membuyarkan kebengongan kedua sahabatnya.
Sean sudah memindai semua sudut, dan fix, tinggal deret pertama setelah pintu masuk yang masih menyisakan beberapa kursi. Ia meringis saat melihat penghuni satu deret meja tersebut, kesemuanya pemakai celana panjang.
“Gila … ini sih namanya perawan di sarang penyamun.” Ruri menggelengkan kepala. Nyaris tidak percaya harus duduk di antara para cowok, yang Ruri amati … ughhh … kenapa tidak ada yang ganteng, sih? Ala para oppa gitu? Sesal Ruri kala tidak mendapatkan apa yang ia inginkan.
Sean mengerjap saat melihat Dian sudah melangkah ke deretan di sebelah pintu masuk. Memperhatikan ketika salah satu sahabatnya itu tampak sedang bicara dengan cowok yang tadi memanggil mereka. Sementara itu, di sampingnya--Ruri berdecak, sebelum akhirnya melangkahkan kaki menyusul sang sahabat. Sean manarik nafas panjang. Sepertinya kesialannya masih bersambung.
Setelah melakukan negoisasi, akhirnya mereka bertiga mendapatkan dua meja di urutan ke dua, dan ke tiga. Ruri dengan cepat meraih tangan Sean, lalu mengajaknya duduk bersama—di meja deret ke tiga. Sementara Dian yang melihat tingkah sahabatnya itu berdecak kesal karena dia harus duduk dengan orang lain.
“Kan lo yang paling berani dibanding kita berdua, Di,” ujar Ruri sembari memasang senyum lebar. Dian mencebik, sebelum melangkah memasuki sela antara meja dan kursi pada deret ke dua.
“Siapa tahu entar lo dapat teman sebangku ala Oppa Sung Hoon,” lanjut Ruri sembari terkekeh. Sean dan Dian menoleh ke arah sang sahabat yang mereka tahu tergila-gila pada para pemain drama korea. Mereka berdua menggelengkan kepala.
“Wah … dapet rejeki nomplok nih duduk bareng cewek.”
Ketiga sahabat yang masih saling pandang setelah ocehan Ruri—menoleh. Di samping meja yang di tempati Dian, sudah berdiri cowok tinggi dengan rambut sedikit ikal—tersenyum ke arah mereka. Kulitnya lumayan putih, bagi seorang cowok.
“Kenalin, Arifin. Panggil saja Bang Pipin.” Cowok itu mengulurkan tangan ke arah Asean yang mengerjapan mata. “Mbak Sean Rajaratnam, atau Sean Husein, atau … siapa tadi, gue lupa—”
Ruri langsung berdecak. “Noh … rejeki nomplok lo sudah duduk manis. Jangan gangguin Sean.”
Dian yang sudah memutar tubuh ke samping, memelototkan mata ke arah Ruri.
“Sudah … sudah … kenalannya nanti saja. Bu guru sudah masuk.”
Seorang cowok yang duduk di meja pertama menoleh. Memberitahu yang lain tentang kehadiran guru mereka.
***
Selesai MOS hari pertama, Sean dan kedua sahabatnya berjalan beriringan keluar dari gerbang sekolah, sembari berbincang.
“Kalian nyadar nggak sih, kalau ada yang bau badan di deket bangku kita?” Ruri membuka suara. Gadis itu sudah tersiksa setengah mati, saat harus menahan nafas karena tidak tahan dengan bau menyengat yang entah berasal dari mana. Dia terlalu enggan untuk mengendus—mencari si pemilik bau badan.
“Lo juga sadar?” Dian menoleh ke arah Ruri dengan mata membesar. Ruri mengerucutkan bibir, sembari mengangguk.
“Gue sampai latihan tahan nafas dari tadi. Yakin deh, besok pas kita renang, gue bakal sanggup di bawah air hingga satu jam!” sahut Ruri berlebihan.
“Yang ada lo mati, Rur.” Sean menoyor bahu Ruri yang berjalan di sebelah kanannya. Sementara Dian lebih sadis lagi. Gadis dengan tubuh paling tinggi, dan padat berisi di antara ketiganya itu sudah menjitak kepala Ruri. Membuat Ruri meringis.
“Ngomong sembarang! Mulut coba dikondisikan. Diajak ngomong yang baik-baik saja. Mana ada satu jam di bawah air tanpa oksigen, masih bisa nafas,” kesal Dian, yang dibalas decakan oleh Ruri.
“Tapi emang bener sih, gue juga tadi sampai enggap banget nahan napas.” Dian terkekeh. “Kayaknya besok harus dicari tahu siapa yang bau badan. Jangan sampai kita pingsan saat jam pelajaran,” lanjut Dian, yang membuat ketiganya kemudian tertawa bersama.
***
Elang baru saja ke luar gerbang sekolah bersama Maya yang duduk di boncengan motor. Oh … tentu saja motor yang ia kendarai bukan punya dia. Motornya sendiri masuk bengkel, karena itu dia terlambat sampai di sekolah.
Cowok itu mengurangi tekanan gas, saat melihat beberapa siswa dengan tampilan seperti yang baru tadi pagi dilihatnya. Sekolahnya juga mengadakan MOS, tapi, atribut yang dikenakan para siswa baru sedikit berbeda dengan para peserta MOS SMU sebelahnya.
Tidak seperti peserta MOS SMU sebelahnya yang mengenakan seragam SMP, siswa baru di sekolahnya mengenakan seragam putih-putih. Jadi bisa Elang pastikan, segerombolan siswa yang sedang berjalan kaki sembari berbincang tak jauh di depannya adalah siswa baru SMU sebelah.
Maya mengernyit, ketika merasakan laju motor memelan. Kepala gadis itu melongok ke spion kanan untuk mengintip sang sahabat. Heran, dengan ekpresi wajah cowok yang sedang memboncengnya. “Ada apa, sih??” tanya Maya penasaran.
Elang menggerjap, lalu melirik sang teman dari spion. Mendapati wajah bertanya Maya. Elang kembali mengalihkan tatapan mata ke depan, membuat Maya mengikutinya.
“Oh … anak baru SMU sebelah,” ujar Maya memberitahu. Elang menganggukkan kepala.
“Iya … tadi pagi gue sempat ketemu salah satunya,” sahut Elang, yang hanya dibalas Maya dengan kata ‘Oh’
***
Sean manarik tangan Ruri ke tepi, saat mendengar suara deru mesin motor semakin dekat. Kepala gadis itu refleks menoleh ke belakang.
“Halo … cewek penyuka warna pink.”
Sepasang mata Seam membulat, sesaat setelah mendengar sapaan dari pengendara motor yang detik berikutnya sudah melaju melewatinya. Menatap kesal seseorang yang berada di atas motor, yang masih tertawa.
Elang tertawa keras begitu menyadari ternyata ia tidak salah mengenali seseorang. Gadis itu benar adalah gadis yang pagi tadi dia bantu memanjat tembok sekolah bagian belakang. Boleh juga, batinnya seraya melirik ke arah spion hingga ia bisa melihat seorang gadis yang sedang menghentak kesal kakinya.