Bab 2. Hukuman Datang Terlambat

1473 Kata
“Terima kasih, Pak.” Segera aku ulurkan satu lembar uang kertas berwarna merah, kepada bapak yang sudah berbaik hati menuruti permintaanku untuk ngebut. Bayangkan saja, perjalanan yang biasanya ditempuh dalam waktu 45 menit, bisa bapak itu patahkan rekornya--menjadi hanya 25 menit saja. Kubuka pintu taxi. Aku sudah terlambat 30 menit dari jadwal. “Kembaliannya, Mbak ….” Aku menunduk ke jendela mobil. “Buat Bapak saja. Terima kasih, sudah mengantar saya dengan selamat.” Kuberikan bapak baik hati itu senyum lebar, sebelum kembali menegakkan tubuh, berbalik, lalu berlari memasuki hotel Gumaya, tempat diadakannya acara reuni sekolah SMA ku. Karena rengekan Ruri, dan juga Dian yang menghubungiku sehari setelah Ruri, akhirnya aku memutuskan untuk ikut hadir pada acara yang lagi-lagi harus aku bilang--tidak suka. Lihat saja jejeran mobil dengan cat yang mengkilat di sepanjang parkiran hotel bintang 5 itu. Bagaimana aku bisa tahu? tentu saja, karena aku tidak turun di depan lobi hotel. Jalanan macet, hingga aku memutuskan untuk turun sekitar seratus meter dari hotel. Ponselku sudah meraung-raung tanpa henti, dan aku tahu siapa pelakunya. Ruri, dan Dian pastinya. Oleh karena itu, aku tidak mau repot-repot mengangkatnya. Lebih baik langsung bergegas menyusul keduanya saja. Tak kupedulikan tatapan bingung dua orang satpam, yang berjaga di pintu masuk, ketika aku masih berlari bahkan setelah memasuki lobi. Aku baru berhenti lari, ketika tiba di depan pintu lift yang sialnya tertutup. Kutekan dengan tidak sabar. Untung saja tidak ada orang, selain aku yang sedang menunggu pintu lift itu terbuka, atau aku akan dikira orang gila, atau orang hamil yang panik karena akan melahirkan. Kuhela nafas lega, begitu mendengar bunyi ‘ting’ dan pintu kotak besi itu, perlahan terbuka. Segera kubawa tubuhku masuk, lalu dengan kecepatan flash--kutekan lagi tombol tutup. Aduh … aku lupa di lantai berapa tempat reuni diselenggarakan. Segera kubuka tas slempang coklat yang kubawa. Kuraih kertas undangan, dengan kaki yang terus menghentak. Nervous aja rasanya, kalau datang terlambat. Kutekan nomor 4, begitu melihat dengan jelas--tempat dilangsungkannya acara ajang pamer lulusan sekolah negeri terbaik di kota Semarang ini. Kuambil nafas panjang, lalu kukeluarkan sedikit demi sedikit. Memperhatikan nomor lantai yang terlihat. Kembali kuhela nafas lega, begitu pintu lift terbuka di lantai 4. Aku bergegas keluar. Menengok ke kanan kiri. Kuhampiri tempat dengan tulisan besar terpampang. REUNI AKBAR ALUMNI SMA NEGERI ** SEMARANG TH 20** – 20** Kuhela langkah cepat, menuju mbak-mbak yang langsung berdiri dari tempat yang mereka duduki--begitu melihat kehadiranku. “Bisa lihat undangannya, Mbak?” tanya sopan, salah satu gadis yang menjaga buku tamu. Segera kuberikan undangan yang bahkan masih kupegang. Dengan senyum sopan, mereka memintaku mengisi buku tamu. Nama, alamat, pekerjaan, alumni tahun berapa, dan juga nomor telepon--data yang harus aku tuliskan dalam buku tamu. Setelah selesai, aku diberikan goody bag, yang aku tidak tahu apa isinya. Aku hanya tersenyum, lalu mengucapkan terima kasih. Tidak punya waktu untuk sekedar mengintip apa isi dalam goody bag yang sudah disiapkan panitia--untuk semua peserta yang hadir. Getar ponsel kembali membuatku gugup. Kumasuki ruangan tempat acara diadakan. Wow … ramai. Harus aku akui, panitia kali ini berhasil menggelar acara dengan baik. Dari tempatnya yang berkelas, juga banyaknya alumni yang hadir, menegaskan keberhasilan panitia yang mengurus acara ini. Two tumbs up for them. Kuedarkan mata, mencari dimana keberadaan dua orang yang menerorku tanpa henti--sejak satu jam yang lalu. Ketika aku masih harus membantu Dokter Dewo, menanggani korban kecelakaan. Kenapa susah sekali melihat keberadaan Ruri, dan Dian. Kulebarkan mataku, untuk mencari keberadaan mereka. Nihil, netraku tidak bisa menemukan mereka. Semua yang ada di dalam ruang besar ini--terlihat sama. “Eh … apa-apan?” Aku segera menoleh, ketika merasakan dorongan dari belakang--hingga kakiku terhela ke depan dengan sendirinya. Kulihat cengiran khas si Demit. “Eh, Mit … elo. Apa kabar, Pak Guru??” tanyaku senang, sekalipun hela kakiku masih belum berhenti, karena Hermit masih terus mendorongku. “Nanyanya entar aja. Lo nggak dengar apa, dipanggil ke panggung dari tadi??” “Hah??!” Aku langsung mengerjap bingung. Apa yang barusan Hermit katakan? aku dipanggil ke depan? kapan? siapa yang manggil? untuk apa aku dipanggil ke panggung? Sebelum otakku bisa menjawab semua pertanyaan, aku sudah dihela salah satu sahabatku, ke atas panggung. Aku meringis, mengamati begitu banyak orang di bawah sana—yang secara otomatis, mengarahkan pandangannya ke arahku. Hermit menepuk pundakku 2 kali, sebelum berpamitan pergi. “Pertanyaan lo, gue jawab entar--kalo lo udah turun dari panggung.” Cowok itu nyengir, lalu bergegas turun. Tinggal lah aku sendiri, kebingungan, nggak ngerti kenapa aku ada di atas panggung bersama … aku menoleh ke samping. Seorang pria yang aku yakini bertugas menjadi pembawa acara. Pria itu mendekat, memberiku mikrofon, sebelum memulai pekerjaannya. Dan ... action! “Nama?” “Asean Sofi.” Aku masih belum paham, untuk apa aku ada di atas panggung. Apakah sudah ada kocokan doorprise, dan aku pemenang utamanya? apa yang aku menangin? motor? Atau, malah salah satu mobil dengan cat semulus kuku Luna Maya--yang terparkir di luar hotel tadi? Kutatap bingung sang pembawa acara, yang justru tersenyum geli. Kelihatan sekali, pria itu sedang menggodaku. Mungkin, karena wajahku--yang pastinya masih cengo sekarang ini. Saking bingungnya. “Bingung??” tanya polos pembawa acara. Kuanggukkan kepalaku cepat. “Karena Mbak … Asean … Sofi ….“ Pembawa acara itu, menyebut namaku dengan ragu-ragu. Mungkin merasa namaku aneh. “Ya ….“ Kuminta dia, untuk segera menyelesaikan apa yang ingin dia katakan. “Karena Mbak terlambat.” Dia melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan kiri. “45 menit. Jadi, sebagai hukuman, silahkan Mbak menghibur teman-teman yang sudah hadir tepat waktu. Yang mungkin, beberapa di antara mereka, sudah menunggu kedatangan Mbak dari tadi.” Apakah telingaku salah mendengar? bukan hanya terlambat datang sekolah, yang mendapat hukuman. Datang ke tempat reuni terlambat, juga mendapat hukuman? baru kali ini aku tahu. Atau, memang karena selama ini aku tidak pernah menghadiri acara reuni apapun, hingga aku tidak tahu peraturan reuni dibuat seperti peraturan sekolah? Mulutku sudah terbuka lebar. Kepalaku menggeleng. Lalu, kudengar teriakan dari beberapa orang di bawah--yang aku kenal suara siapa itu. Aku segera memutar kepala ke depan, dan langsung menemukan sekumpulan orang-orang--yang aku kenal. Ruri, Dian, dan teman-temanku lainnya, yang masih aku ingat dengan jelas. Yang kucari, sedari awal aku memasuki ruangan. “Ayo Sean! … ayo Sean! ….“ teriak mereka, sambil jingkrak-jingkrak, seperti anak kecil. Rasanya mukaku sudah memanas sekarang. Lautan manusia di bawah panggung, pasti sekarang sudah mengenal namaku. Oh, ya Tuhan, rasanya malu sekali. Apa-apaan ini. Kulihat tanganku, tas, serta goody bag yang kubawa--bahkan sudah tidak ada, dan aku tidak sadar, kapan Hermit mengambilnya. Aku yakin, dia yang mengambilnya, karena hanya dia yang bersinggungan denganku sejauh ini. Aku menoleh kembali ke arah pembawa acara, yang masih setia mengumbar senyum. “Mbak Sean mau memberikan hiburan apa? menyanyi boleh … menari boleh … apa saja, yang penting bisa menghibur semua teman-teman.” Aku mendesah pasrah. Memangnya, apa lagi yang bisa kulakukan sekarang? tidak mungkin aku merengek minta turun. Itu lebih memalukan. Kuputar otakku. Memangnya apa yang aku bisa, sih? membacakan mereka jurnal kesehatan? sudah pasti, itu bukan termasuk hiburan buat mereka. Kubuang nafas kasar. Tanganku yang bebas--terangkat, meraba rambut. Ughh … aku bahkan lupa masih menggulung rambut, dengan bolpoin sebagai penyangga. “Boleh minta tisu?” Aku menoleh ke arah pembawa acara, yang langsung merogoh saku celananya. Wow … dia membawa satu bungkus kecil tisu, yang aku yakin--baunya pasti wangi. Gambar bungkusnya strawbery, buah yang aku suka. Kuucapkan terima kasih, lalu kugunakan tisu itu untuk mengusap keringat di wajah, dan leherku. Lihat, keringatku saja belum kering, setelah tadi berlagak menjadi atlet lari. Dan sekarang, aku sudah dibuat kembali berkeringat--karena gugup. Tapi, sudah tidak mungkin mundur. Akhirnya, kulangkahkan kaki--menuju seseorang yang berada di belakang piano. Kukatakan, aku akan menyanyi lagu yang aku hafal. Satu-satunya lagu, yang sampai saat ini masih nyangkut di otakku. Que sera sera. Sebuah lagu lawas, yang dinyanyikan oleh Doris Day. Satu lagu yang begitu mengena di hatiku, hingga tak mampu kulupakan sampai sekarang, sekalipun aku sudah menghafal banyak jurnal kesehatan. Aku berdehem untuk membersihkan tenggorokanku, sebelum mengangkat microfon. Suasana menjadi hening, begitu denting pertama piano terdengar. Kunyanyikan baris demi baris, syair lagu yang benar-benar melekat di hatiku. Membuat hatiku kembali merasakan nyeri, dan mataku memanas. Kutekan rasa itu sedalam mungkin. Semua sudah berlalu. Masa lalu itu, tidak akan bisa mempengaruhiku lagi. Kusemangati diriku sendiri. Semua orang terdiam mendengar suaraku, yang sebenarnya tidak bisa dikatakan bagus. Tapi aku cukup berbangga, karena paling tidak, suaraku masih layak untuk didengar. Kurasa, teman-temanku tidak akan memiliki gangguan pendengaran, hanya karena mendengar suaraku. When I grew up, and fell in love I ask my sweethearth, what lies ahead Will we have rainbows Day, after day Here’s what my sweethearth said Que Sera, sera Whatever will be, will be The future’s not ours to see Que sera, sera What will be, will be Dua bait ini, tepat menusuk hatiku. Ketika kembali--kelebat cerita cinta pertamaku, terlintas. Lagu yang sering kunyanyikan, diiringi suara petikan gitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN