BAB 2

1335 Kata
"Se-sepuluh kali lipat? Anda serius?" cicit wanita pemilik rumah bordil itu, suaranya bergetar antara tak percaya dan tergiur luar biasa. Pria itu tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengeluarkan sebuah buku cek dan pena dari dalam mobil, lalu menuliskan sejumlah nominal fantastis di atas kertas tersebut. “Ambil. Dan jangan ganggu gadis ini lagi,” serunya penuh arogansi, sambil melempar kertas cek tersebut ke wajah wanita itu. Wanita pemilik rumah bordil itu dengan tangan gemetar penuh ketamakan, memungut kertas cek tersebut. Begitu matanya menangkap deretan angka yang tertera di sana, senyum lebar langsung terkembang di wajahnya. "Senang bertransaksi dengan Anda, Tuan! Silahkan bawa dia! Sekarang dia sepenuhnya milik Anda," seringainya, sebelum bergegas pergi bersama anak buahnya. Menyadari bahwa dirinya baru saja berpindah dari satu neraka ke neraka yang lain, Kalana menarik dirinya menjauh dengan sisa-sisa tenaga yang ada. Air matanya tumpah semakin deras. ​"Masuk," perintahnya singkat, mutlak, dan tidak menerima penolakan. "Biarkan aku pergi. Aku mohon ...," isaknya, suara serak itu memohon belas kasihan di tengah keputusasaan yang menggerogoti jiwanya. Alih-alih merasa iba, pria itu merengkuh pinggang Kalana dengan kuat—menarik tubuh mungilnya dengan paksa, hingga tubuh bagian depan mereka menempel tanpa jarak. “Kau hanya tinggal pilih. Ikut bersamaku ... atau menghabiskan sisa hidupmu di sini melayani para pria yang akan datang silih berganti?” bisiknya rendah, mendekatkan wajahnya hingga bibirnya nyaris menyentuh telinga Kalana. Kalana menangis tanpa suara. Apa yang pria itu katakan jelas bukan lah sebuah pilihan, melainkan sebuah jalan buntu yang sama-sama mematikan. Di satu sisi, ia meninggalkan tempat j*****m ini. Namun di sisi lain, entah neraka seperti apa yang akan dihadapinya jika ikut bersama pria asing ini. “Pilihan yang mudah, kan?” seringai pria itu, tangannya merayap mengusap rahang Kalana—memaksa wajah basah gadis itu untuk mendongak sepenuhnya menatapnya. Tanpa mengindahkan isak tangis sang gadis, ia memajukan wajahnya, membungkam sisa ratapan di bibir Kalana dengan sebuah ciuman yang menuntut, dan sarat akan klaim. Kalana terkesiap, matanya membelalak lebar karena syok. Pertemuan mereka bahkan belum genap dua puluh empat jam, tapi pria ini sudah berani menciumnya. Bagaimana dengan hari-hari berikutnya. Rasa takut kembali merayap naik, dengan cepat melilit d**a Kalana. Dengan sekuat tenaga, ia mencoba memukul dan mendorong d**a bidang pria itu. Namun alih-alih terlepas, pria itu justru semakin memperdalam ciumannya—merampas paksa setiap desah napasnya. Ciuman itu terasa begitu menyesakkan sekaligus memenjarakan, seolah menjadi segel mutlak bahwa Kalana kini telah sepenuhnya tenggelam ke dalam kekuasaan pria ini. Pria asing yang bahkan namanya saja ia tidak tahu. “Eghhh ….” Ketika akhirnya ciuman itu terputus, menyisakan jarak tipis dengan napas yang sama-sama memburu, pria itu menyapu bibir Kalana yang bengkak dan basah dengan ibu jarinya. Menatap lekat ke dalam manik mata Kalana yang masih bergetar hebat dalam ketakutan. "Panggil aku Damian," bisiknya rendah, penuh kepemilikan. -oOo- Karena rasa lelah yang teramat, Kalana tak lagi punya tenaga untuk memberontak, saat tubuhnya didorong masuk ke dalam mobil. Selama perjalanan, semakin lama kelopak matanya terasa semakin berat, hingga akhirnya jatuh terlelap. Ia tidak lagi peduli ke mana roda mobil ini akan membawanya. Ketika kesadarannya perlahan merayap kembali, ia tidak lagi berada di dalam mobil. Melainkan terbaring di atas ranjang berukuran king size dengan seprai sutra berwarna hitam arang yang begitu lembut. Sinar matahari pagi yang lolos melalui celah tirai terasa menyilaukan, memaksa mata Kalana untuk mengerjap. Beriringan dengan matanya yang terbuka, kepalanya berdenyut sakit, dan tubuhnya terasa remuk—seolah sisa-sisa tenaga dan air matanya semalam telah menguras habis tenaganya. "Eughh ... kenapa kepalaku sakit sekali," lenguh Kalana lirih, dengan suara serak khas orang bangun tidur. Ia mencoba menggerakkan tubuhnya, namun seperti ada sesuatu yang berat dan hangat yang melingkar ketat di pinggangnya—seolah mengunci tubuhnya tanpa celah. Aroma maskulin yang begitu menenangkan juga langsung menyeruak ke indera penciumannya. Dengan napas tercekat, Kalana perlahan mendongak, dan mendapati wajah Damian hanya berjarak beberapa senti dari wajahnya. Pria itu terlelap dalam posisi menyamping, sepenuhnya telanjang d**a. Deg "AAAAAAAA ...!" Kalana berteriak histeris, suaranya melengking memenuhi setiap sudut kamar berinterior mewah itu. Refleks, ia mendorong d**a telanjang Damian sekuat tenaga dan menarik selimut hingga menutupi dadanya rapat-rapat. Damian yang terkejut setengah mati langsung membuka mata, mengusap wajahnya kasar—tampak sangat terganggu dengan jeritan Kalana. Ia menggeram tertahan, lantas melempar tatapan tajamnya—matanya menyala merah. "Kenapa teriak-teriak?!" bentak Damian dengan suara serak khas bangun tidur, rahangnya mengeras menahan jengkel. "Apa yang kau lakukan padaku?" cicit Kalana, suaranya parau, napasnya terengah-engah. Ia berusaha memberi jarak sejauh mungkin dengan merayap mundur hingga punggungnya membentur kepala ranjang. Tangannya semakin erat mencengkeram selimut, sementara matanya bergerak liar memeriksa pakaiannya yang telah berganti menjadi kemeja kebesaran yang ia yakini adalah milik pria itu. "Kenapa aku bisa memakai baju ini? Di mana pakaian ku yang semalam? Apa kau yang sudah menggantikan bajuku?! Dan kenapa kau bisa ada di sini?! Kau—” "BERISIK!" Bentakan itu langsung memotong rentetan pertanyaan Kalana dalam satu detik. Damian mendengus kasar, lantas kembali berbaring, dan memejamkan matanya seolah tidak peduli. “Baju mu semalam kotor dan bau. Pelayan yang menggantinya. Dan aku sama sekali tidak tertarik menyentuh wanita yang sedang tidur. Kenapa aku di sini? Karena ini kamarku!” desisnya. Kalana terdiam, lantas mengedarkan pandangannya ke sekitar. Kamar ini begitu megah, dan luas dengan arsitektur modern, didominasi warna monokrom yang elegan, serta dinding kaca besar yang menampilkan pemandangan langit ibu kota dari ketinggian lantai lima puluh. "Aku ingin pulang," cicitnya setelahnya, nyaris tak terdengar. Damian membuka mata, melirik Kalana dengan sebelah alis terangkat. "Pulang ke mana?" “Ke rumahku. Aku punya rumah.” Damian mendengus sarkas. “Lupa kalau udah dibuang dan dijual?” Kalana terdiam. Jawaban pria itu telak menamparnya kembali pada kenyataan pahit itu. Satu pertanyaannya, kenapa keluarganya tega melakukan itu? “Kenapa kau membeliku?" tanya Kalana, setelah cukup lama hening. “Aku menolongmu.” Kalana mendengus getir. “Kau tidak menolongku, melainkan membeliku dengan harga yang lebih mahal. Kau tidak ada bedanya dengan mereka yang sama-sama memperlakukanku seperti barang murah yang bisa dibeli dengan segepok uang." Damian menarik dagu Kalana, memaksa gadis itu untuk menatapnya. "Lalu kau pikir mereka akan membebaskanmu begitu saja secara cuma-cuma, hm?" Kalana diam. “Bisnis adalah bisnis. Mereka tidak akan menyerahkan barang dagangannya yang sudah dibayar lunas, tanpa keuntungan yang setimpal. Ibaratnya aku baru saja menebusmu secara sah.” Lagi-lagi Kalana terdiam cukup lama di bawah tatapan mengintimidasi milik Damian. Matanya berkaca-kaca, dan tangannya semakin erat mencengkram selimut. “A-aku akan membayar kembali uangmu,” ucapnya, suaranya bergetar tapi menyiratkan tekad. "Membayar kembali?" ulang Damian dengan nada mencemooh. "Dengan apa, hm?" “Ya dengan uang. Kalau kau mengizinkanku pulang, aku bisa minta papaku untuk—” ​"Setelah kau dilempar ke rumah bordil itu, kau masih belum mengerti juga?" Untuk kesekian kalinya Kalana terdiam. ​"Kau benar-benar tidak mengerti? Atau hanya sedang mencoba menyangkal kenyataan?" cecar Damian sekali lagi. Kalana masih diam, tapi genangan air mata itu akhirnya jatuh. Ia tidak bodoh untuk bisa mengartikan maksud ucapan Damian, namun ia juga tidak akan berbohong, jika ia memang berusaha keras menyangkalnya. Melihat kebisuan Kalana, Damian mendengus sinis, tawa pendek yang terdengar penuh ejekan lolos dari bibirnya. “Tidak heran kenapa kau bisa dengan mudah terdampar di rumah bordil itu,” ucapnya, sarat akan sindiran. Ia lantas bangkit dari ranjang, berdiri menjulang dengan tubuh telanjang d**a yang dipenuhi otot kencang dan garis tubuh yang tegas. Ia sudah akan berlalu ke kamar mandi, mengabaikan Kalana yang sedang meratapi nasibnya. Tapi mendadak niat itu urung, dan ia kembali berbalik. “Sebenarnya kau punya satu cara untuk bisa membayar hutangmu, tanpa menggunakan uang.” Seketika itu juga, api kecil harapan menyala di mata Kalana yang basah. Keputusasaan dalam diri gadis itu langsung menguap, digantikan dengan binar antusias. “Benarkah? Bagaimana caranya? Aku bisa memasak, beberes rumah, mencuci piring, bahkan mencuci mobil. Atau ada hal lain yang bisa ku lakukan? Kau hanya tinggal mengatakannya padaku,” tanyanya cepat, beruntun, dan penuh semangat. Damian tidak langsung menjawab. Ia perlahan membungkuk, menatap lekat ke manik mata Kalana dari jarak yang sangat dekat. “Bayar aku dengan tubuhmu,” bisiknya sensual.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN