Ilona akhirnya mendapat izin untuk pulang dari dokter. Tubuh Ilona masih terasa sangat ringkih, kepalanya pun sesekali masih berdenyut nyeri jika ia melakukan gerakan mendadak.
"Pelan-pelan, Sayang. Pegangan pada bahuku!" bisik Rendra lembut, menyangga tubuh istrinya agar bisa duduk dengan nyaman di kursi roda.
Baru saja roda kursi itu menyentuh lantai teras, pintu rumah terbuka lebar. Dua sosok mungil berlari keluar dengan wajah yang memancarkan kerinduan.
"MAMAAAAAA!"
Gladys dan Galen berteriak kompak. Gladys, yang kakinya masih dibalut perban tipis, berlari mendahului adiknya. Begitu sampai di depan Ilona, mereka langsung menghambur, memeluk kaki dan perut ibu mereka dengan erat.
"Mama... hiks... Kakak kangen banget. Jangan sakit lagi, ya, Ma!" isak Gladys, membenamkan wajahnya di pangkuan Ilona.
"Maa... Gayen juga angen Mama," racau Galen sembari mencoba memanjat ke pangkuan Ilona yang masih sangat terbatas ruang geraknya.
Air mata Ilona tumpah seketika. Ia mengusap rambut kedua anaknya dengan tangan yang masih gemetar. "Mama di sini, Sayang. Mama sudah pulang. Maaf ya, Mama kemarin harus istirahat dulu di sana. Kalian tidak nakal kan sama Oma?"
"Gladys pinter, Ma! Gladys jagain Galen terus supaya nggak nangis," lapor si sulung sembari menghapus air matanya dengan punggung tangan, berusaha terlihat kuat di depan ibunya.
"Anak pintar... Tuan putri Papa memang hebat," puji Rendra sembari mengacak rambut Gladys, lalu ia menggendong Galen agar tidak terlalu menekan perut Ilona yang mungkin masih nyeri.
Dari ambang pintu, Mama Mira muncul dengan senyum lega. Ia berjalan mendekat dan mengusap bahu menantunya itu dengan sayang.
"Syukurlah kamu sudah pulang, Na. Rumah ini rasanya hampa tanpa kalian. Anak-anak juga murung terus kangen sama mamanya," goda Mama Mira lembut.
"Ayo masuk, udara di luar mulai panas. Mama sudah siapkan sup ayam hangat dan semua makanan kesukaan kalian. Kita makan siang bareng, ya?"
Ilona menoleh ke arah suaminya, mengharapkan Rendra akan bergabung. Namun, ia melihat Rendra sedang melirik jam tangannya dengan gelisah.
"Ma, Ilona... sepertinya aku nggak bisa ikut makan siang sekarang," ujar Rendra dengan nada menyesal.
Wajah Mama Mira langsung berubah masam. "Rendra! Istrimu baru saja keluar dari rumah sakit. Anak-anakmu merindukanmu. Apa tidak bisa urusan kantor ditunda sebentar lagi?"
"Ma, tolong mengerti. Aku sudah dua hari benar-benar lepas dari pekerjaan. Ada meeting penting jam satu nanti yang tidak bisa wakilkan. Pekerjaan lainnya juga udah menumpuk banget. Aku harus ke kantor segera," jelas Rendra cepat. Ia kemudian mencium kening Ilona dengan dalam.
"Na, maaf ya? Aku janji pulang cepat. Aku akan beli martabak kesukaanmu nanti sore."
Ilona tersenyum tipis, mencoba memaklumi suaminya. "Nggak apa-apa, Ren. Pergilah. Tapi janji, jangan telat makan, ya? Minta Rio buat belikan makan dulu sebelum meeting dimulai!"
"Iya, Sayang. Aku berangkat sekarang. Ma, tolong jaga Ilona dan anak-anak sebentar ya," ucap Rendra sembari berpamitan.
***
Tepat pukul empat sore, setelah meeting selesai. Rio masuk ke ruangan Rendra tanpa suara. Ia berdiri di depan meja jati besar itu, menunggu atasannya memberikan kode.
"Katakan, Rio. Bagaimana perkembangannya?" tanya Rendra sembari menyandarkan punggungnya yang terasa kaku.
Rio memperbaiki letak kacamatanya. "Informasi pertama, Pak. Ibu Farah sudah diperbolehkan pulang dari rumah sakit siang tadi. Fisiknya sudah stabil, meski secara psikis dia masih sangat rapuh. Jenazah Fadly juga sudah dimakamkan dengan layak di TPU dekat rumah mereka. Saya sudah mengurus semua biaya pemakaman, sesuai perintah Bapak."
Rendra menarik napas panjang. "Sykurlah kalau begitu. Lalu, bagaimana dengan santunan yang aku kirimkan?"
Wajah Rio berubah ragu. "Itu masalahnya, Pak. Saya sudah mengantarkan cek dan uang tunai sebagai santunan ke rumah Ibu Farah. Tapi... dia menolaknya. Dia tidak mau uang. Dia hanya ingin adiknya kembali."
Rendra menghela napas berat. Tatapannya kosong. Rasa bersalah itu semakin menghantuinya.
"Bapak jangan menyalahkan diri sendiri, Pak. Itu musibah," hibur Rio, meski ia tahu itu sia-sia.
"Rio, siapkan mobil. Antar aku ke rumahnya!" perintah Rendra tiba-tiba sembari menyambar jasnya.
"Tapi Pak, kondisi di sana mungkin belum kondusif. Jika Ibu Farah melihat Bapak sekarang, saya takut dia akan kembali histeris dan membahayakan kondisi jantungnya," saran Rio dengan hati-hati.
"Aku tidak akan masuk. Aku hanya ingin melihat kondisi tempat tinggalnya. Aku ingin tahu di mana dia tinggal."
Dua puluh menit kemudian, mobil mewah yang dikendarai Rio memasuki sebuah gang sempit di kawasan padat penduduk di pinggiran kota. Jalanannya hanya cukup untuk satu mobil, memaksa kendaraan itu berjalan merayap di antara jemuran warga dan anak-anak yang bermain bola plastik.
"Rumah nomor 14, Pak. Yang catnya sudah mulai mengelupas itu," tunjuk Rio.
Rendra menurunkan kaca mobil, cukup untuk melihat sebuah rumah petak kecil yang tampak sangat kontras dengan kemewahan hidupnya. Rumah itu tampak sepi, tak ada tanda-tanda kehidupan. Lampu terasnya mati meski hari mulai gelap. Di depan pintu, masih ada sisa-sisa bunga mawar dan melati yang sudah layu, mungkin sisa dari pelayat yang datang tadi siang.
Rendra menatap rumah itu dengan pandangan yang sulit diartikan.
"Apa yang harus aku lakukan untuk menebus rasa bersalah ini? Dia bahkan menolak bantuanku. Dan hanya dia satu-satunya kerabat yang dimiliki Fadly," batin Rendra.
"Pak, apa Bapak mau saya turun untuk mencoba bicara lagi dengan tetangganya?" tanya Rio memecah keheningan.
"Tidak usah. Biarkan dia sendiri dulu. Luka di hatinya masih basah. Aku bisa merasakan kesedihan yang keluar dari celah-celah pintu rumah itu. Rasanya begitu pekat."
Rendra terus menatap ke arah jendela kecil yang tertutup gorden lusuh. Ia membayangkan Farah ada di dalam sana, mungkin sedang menangis di atas bantal adiknya.
"Fadly... apa yang harus aku lakukan untuk kakakmu agar kau merasa tenang di atas sana?"
Air mata Rendra kembali menetes. Sebagai seorang pengusaha sukses yang biasa mengendalikan segala hal dengan uang dan kekuasaan, ia merasa sangat tidak berdaya saat ini. Ia punya banyak uang di bank, tapi tak satu perak pun bisa memutar waktu atau membeli maaf dari wanita di dalam rumah itu.
"Rio," panggil Rendra pelan, suaranya parau.
"Iya, Pak?"
"Menurutmu, apakah dia akan bisa memaafkanku?"
Rio terdiam sejenak, menatap lurus ke depan. "Waktu adalah penyembuh terbaik, Pak. Tapi untuk saat ini, mungkin keberadaan Bapak adalah pengingat akan traumanya. Kita harus bersabar."
"Aku tidak bisa hanya diam dan bersabar, Rio. Setiap detik yang dia habiskan dalam penderitaan di rumah itu adalah beban bagiku."
Rendra menarik napas panjang, lalu menyeka air matanya dengan sapu tangan. "Sudah cukup. Ayo kita pulang. Besok pagi-pagi sekali, kamu harus ke sini lagi. Jangan bawa uang. Bawa makanan, buah-buahan, dan titipkan pada tetangganya agar diberikan padanya."
"Baik, Pak. Saya mengerti."
"Dan Rio... carikan aku dokter spesialis jantung terbaik untuknya! Jika memungkinkan, aku ingin dia sembuh. Soal biaya pengobatan jantung dan ginjalnya, kamu atur saja semuanya! Pastikan dia mendapat semua fasilitas terbaik!"
"Akan saya laksanakan, Pak."
Mobil itu perlahan mulai bergerak meninggalkan gang sempit tersebut. Rendra menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya, menatap rumah kecil nomor 14 yang semakin menjauh dan menghilang di belokan.
"Aku tidak akan menyerah, Farah. Aku akan membayar pengorbanan yang telah adikmu berikan. Karena tanpa Fadly, mungkin saat ini aku yang hancur karena telah kehilangan Ilona dan anak-anakku. Aku akan membayar semua itu, bahkan meski harus dengan nyawaku," bisik Rendra dalam batinnya.
Sesampainya di rumah, Rendra menemukan Ilona sedang duduk di ruang keluarga, ditemani Gladys yang sedang membacakan buku cerita untuk ibunya. Galen sudah tertidur di kamarnya.
"Kamu sudah pulang, Ren?" Ilona menyapa dengan senyum lembut, meski gurat kelelahan masih tampak jelas.
Rendra mendekat, mencium kening istrinya, lalu duduk di lantai di samping kursi roda Ilona. Ia menyandarkan kepalanya di lutut Ilona, mencari ketenangan yang selama beberapa jam ini hilang.
"Gimana di kantor? Banyak pekerjaan yang menumpuk?" tanya Ilona sembari mengusap rambut suaminya.
"Lumayan, Na. Tapi semuanya bisa teratasi," bohong Rendra lagi. Ia belum sanggup menceritakan tentang penolakan Farah atau kunjungan singkatnya ke gang sempit itu. Ia tidak ingin menambah beban pikiran Ilona yang sedang dalam masa pemulihan.
"Papa, tadi Kakak baca cerita tentang pahlawan," celetuk Gladys sembari menutup bukunya. "Pahlawan itu orang yang nolong orang lain tanpa minta imbalan, kan Pa?"
Rendra tersentak. Pertanyaan polos anaknya itu terasa seperti petir di siang bolong. Ia menatap mata Gladys yang jernih. "Iya, Sayang. Pahlawan itu orang yang sangat berani. Seperti... seperti orang yang menolong kita kemarin."
"Terus pahlawannya sekarang di mana, Pa? Kakak mau kasih gelang yang Kakak buat di sekolah untuk dia," tanya Gladys lagi.
Rendra menelan ludah, tenggorokannya terasa sangat kering. Ia menoleh ke arah Ilona yang juga menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Pahlawannya sudah istirahat, Sayang. Dia sudah di surga," jawab Ilona dengan suara gemetar, mewakili Rendra yang tak sanggup berucap.
"Oh... kalau gitu gelangnya Kakak titip ke Papa aja, ya? Biar Papa yang kasih ke keluarganya pahlawan itu," ucap Gladys sembari memeluk leher Rendra.
Rendra memejamkan mata erat, mendekap putri sulungnya itu dengan perasaan hancur. "Iya, Sayang. Papa akan sampaikan. Papa akan sampaikan semua rasa terima kasih kita ke keluarga yang dia tinggalkan."
"Apa semua baik-baik saja?" Ilona bertanya dengan nada lembut. Ia tahu. Ia bisa merasakan jawaban atas apa yang dia tanyakan.
Rendra menggeleng kecil. "Dia menolak santunan kita, sayang. Tapi aku sudah minta Rio untuk cari dokter terbaik dan pengobatan terbaik untuknya. Aku akan terus berusaha, agar kita tak terus dihantui rasa bersalah ini."
"Dia... sakit?"
Rendra menahan napas sebentar. Pada akhirnya, ia memang tak mungkin menyembunyikan apapun dari Ilona.
"Kebocoran jantung bawaan, dan gagal ginjal. Selama ini, Fadly yang membiayai semua pengobatannya. Farah itu perempuan yang lemah, sakitnya sering kambuh-kambuhan. Jadi selama ini mereka hanya punya satu sama lain di dunia ini," terang Rendra.
Tatapan Ilona seketika tampak goyah. Rendra bahkan bisa merasakan cengkraman Ilona pada tangannya semakin kuat.
"Ren, boleh bantu aku ke sana? Tolong... pertemukan aku dengannya! Aku ingin bertemu dan bicara langsung dengannya," pinta Ilona.
"Na, keadaan kamu-"
"Aku yang berutang nyawa padanya, Ren. Adiknya meninggal tepat setelah menyelamatkanku. Jika saja hari itu..."
"Na... jangan salahin diri kamu sendiri! Nggak ada yang mau kejadian itu terjadi. Lihat! Keadaanmu sendiri pun sekarang tidak baik-baik saja!"
"Aku tahu. Tapi aku mau bertemu dia. Aku mau bertemu dengan keluarga dari orang yang telah menyelamatkanku." Setetes air mata Ilona akhirnya luruh juga.
Ilona menatap Rendra dengan tatapan memohon, membuat Rendra tak sanggup mengelak.