Plaak. Nala langsung asyik mengeplak kepala sahabatnya yang sudah ”sangat” lama ia tak jumpa. Berkata, ”Ketawa lu kayak kuntilanak, anjing. Bikin takut aja,” peringatnya dengan intonasi (sok) datar. Keduanya melanjutkan perjalanan ditemani oleh berbagai obrolan ringan. Saat Nala sedang mengatakan sesuatu. Elan akan melihat lekat ke wajah anak itu. Berharap apa yang ia saksikan bukan hanya kebohongan. Habis untuk beberapa alasan. Ia masih belum bisa seratus persen percaya. Bahwa ia akan benar-benar bisa meninggalkan kehidupan sebagai seorang putra pangeran yang kehadirannya tak pernah diinginkan. Sang badai. Pembawa masalah. “Nal,” potong Elan saat Nala sedang menceritakan pengalamannya kala digoda oleh instruktur fitnes yang hombreng tralala trilili. Pria itu tampan dan mapan, sih. Tapi,

