Kali ini aku tidak melawan. Tidak juga protes. Aku membiarkan Pak Hen mengecup lembut bibirku. Mata kami kembali bertemu. "Saya sangat mencintai kamu, Ziya." ucap Pak Hen. Aku membiarkan pria itu kembali melabuhkan bibirnya ke atas bibirku. Mengecapnya lembut. Bagai es krim yang memabukkan. Lagi dan lagi. "Balas, Ziya," bisik Pak Hen di tengah ciuman lembutnya. Dengan gerakan kaku, perlahan aku membalasnya. Mengikuti semua yang dia lakukan. Efeknya luar biasa. Ritmenya makin meningkat. Dari gerakan yang sangat lembut sekarang menjadi tergesa dan buru-buru. Ciuman Pak Hen berubah menjadi menuntut dan memanas. Entah sejak kapan pria itu berhasil membawaku ke atas kasur. Menguasai tubuhku tanpa melepas tautan bibir kami. Aku tersengal-sengal. Nafas kami memburu hebat. "Su-sudah, Pak!"