Di dalam ruang kerja entah kenapa, perasaan Rangga tetap tidak enak. Pikirannya terus tertuju pada Alya yang terus saja berputar di isi kepalanya, Alya benar-benar tidak memberi tahu dirinya siapa yang sudah mengirimkan pesan pada dirinya. Rangga menopang dagunya dengan sebelah tangan, ia menatap ke layar laptopnya yang menampilkan grafik perusahaannya. Pintu ruang kerja Rangga terbuka menampakkan Dani yang masuk ke dalam ruangannya, ia menatap heran ke arah Rangga. Dani melambaikan tangannya di depan wajah Rangga, tapi Rangga sama sekali tidak bergeming. "Woy, Rangga!" Ucap Dani membuat Rangga langsung mengedipkan matanya. "Hah, kenapa?" Tanya Rangga seperti orang linglung. "Lu kenapa?" Tanya Dani yang bingung dengan sikap Rangga. Rangga langsung menggelengkan kepalanya, "gak apa-a

