BAB 04

2056 Kata
Tiga malam berlalu. Tahlilan sudah selesai. Keluarga dekat pun satu per satu kembali ke kediaman masing-masing. Mehdi dan Nino juga pamit. Kini, rumah terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya. Aku berdiri di depan kamar adikku. Lalu melangkah masuk dan membiarkan pintunya tak menutup sempurna. Kamar itu masih seperti terakhir kali ditinggalkan. Hoodie biru tua tergantung di kursi. Sepatu sneakers kesayangannya tergeletak sembarangan di lantai. Meja belajar penuh buku latihan soal dan coretan penyelesaian. Aku duduk di tepi tempat tidur. Hoodie itu kuraih, kudekap di d**a. Masih ada aroma parfum yang biasa dipakai Yupi. “Akang mau ke mana?” Pertanyaan yang menyeru itu terngiang tiba-tiba. Aku menoleh ke pintu, membayangkan diriku yang berdiri di depan kamarnya yang terbuka. Berhenti karena adikku yang melangkah mendekat. “Jatinangor, mau balikin KTP si Juno,” jawabku. “Ikut atuh.” “Nggak usah! Ngapain sih. Cicing weh di dieu. Tidur. Besok kencan sama Amanda.” “Amanda nggak bisa kencan. Mau pergi sekeluarga katanya. Gue shalat bentar, mau ikut, jangan ditinggal.” Aku mendecak, lalu melangkah pergi. Harusnya... kutinggalkan saja ia semalam. Semua percakapan ringan itu kini terasa berat. Aku menunduk, bahuku bergetar. Air mataku akhirnya luruh juga. Kukatupkan erat bibirku agar tak ada suara isak dramatis yang mengganggu Mama dan Papa. Jika aku saja merasa ujian ini begitu berat, apalagi beliau berdua. Hingga... tangisku mereda saat mendengar samar suara langkah dan dialog orangtuaku. “Jangan nyalahin siapa-siapa, Kang…” ujar Mama. “Kalau saja aku nggak memperkenalkan kalian ke keluarga Bima. Iyal dan Erin tak perlu berurusan. Anak-anak kita nggak akan celaka.” “Astaghfirullah. Akang... istighfar, Kang. Nggak boleh menyalahkan takdir,” isak Mama. “Robbi innii massaniyadh-dhurru wa anta arhamur-roohimiin. Ya Allah.” Hening. Kalimat Papa memang tak ditujukan padaku. Meski soal hubunganku dengan Erin adalah murni keputusanku. Aku yang mendekatinya, memintanya menjadi pacarku, mencintainya, hingga mengusaikan hubungan kami terlepas apa pun penyebabnya. Namun... kalimat itu membuatku merasa bersalah. Aku memejamkan mata. Kalau saja. Kalau saja aku tak pergi malam itu. Kalau saja aku tak mengetuk pintu kontrakan kami. Kalau saja aku menunggu sedikit lebih lama di ujung gang. Kalau saja aku tak berhenti di depan minimarket. “Ya Allah... astaghfirullah,” lirihku. Aku berdiri. Berjalan ke meja belajar Yupi. Tanganku terulur, meraih foto kami berdua saat liburan ke Banda Neira tahun lalu. Yupi yang merengek, ia bilang ingin melihat gerombolan lumba-lumba. Dan itu terwujud. Adikku begitu senang kala itu, ia sampai tertawa sambil menangis haru. “Pokoknya, gue mau Akang bahagia. Titik!” Suara itu kembali terngiang. Aku mengusap kasar wajahku. Pigura di genggaman, kuletakkan kembali. Entah bagaimana caranya aku bahagia, sementara orang yang mengharapkan kebahagiaanku justru mati karenaku. Aku menjauh dari meja yang penuh dengan jejak Yupi, melangkah gamang. Saat menarik pintu, Mama dan Papa tampak terkejut mendapatiku. “Yal?” tegur Papa. Aku hanya mengangguk lesu, lalu melanjutkan langkahku menuju kamarku sendiri. Pintu kututup, lalu bernapas dalam beberapa kali. Sesak ini masih menggelayut di d**a, seolah menjadi pengingat jika kehilangan yang bertubi-tubi dan menyakitkan ini sungguh nyata. Aku menarik kursi, duduk di depan komputerku, menyalakan perangkat tersebut. Di kolom address bar, aku mengetik alamat situs lowongan kerja tenaga medis. Kata kunci aku masukkan; dokter gigi. Lokasi kemudian aku batasi; luar JaBoDeTaBek dan Bandung. Daftar muncul satu per satu. Klinik di Surabaya. Rumah sakit di Makassar. Lalu satu nama menarik perhatianku. Puskesmas Tetebatu, Lombok. Desa wisata. Kebutuhan dokter gigi tetap. Kontrak satu tahun. Jauh. Cukup jauh. Aku menatap layar itu lama. Di rumah ini, setiap sudut akan mengingatkanku pada Yupi. Dan aku belum cukup kuat untuk hidup berdampingan dengan kenangan itu setiap hari. Di kota ini, Jatinangor, dan Bandung, setiap jalan akan mengingatkanku pada hari ini. Dan keadaanku yang sebegini kacau, pasti akan menyakitkan banyak orang, terutama Mama dan Papa. Meski aku tahu mereka tak menyalahkanku, namun melihatku saat ini pasti membuat jantung mereka seolah diremas. Dan mungkin, dengan aku menjauh, rasa sakit dan beban mereka akan berkurang. Resume dan dokumen yang dibutukan segera kulampirkan. Kursor kemudian bergerak ke tombol apply. Tanganku sedikit gemetar. Aku berhenti sejenak. Tak perlu diskusi dengan Mama Papa. Aku sudah sangat dewasa untuk mengambil keputusan sendiri. Meski... mungkin tanpa pertimbangan yang matang. Kutarik napas dalam sekali lagi. Lalu mengklik tombol apply tersebut. Lamaran terkirim. Layar menampilkan notifikasi singkat; application submitted. Komputer kemudian kumatikan sebelum jemari membawaku berselancar ke mana-mana. Pandanganku menyapu setiap bagian dari kamar ini, dan semua hal yang dilakukan Yupi di sini masih sangat jelas kuingat. Sunyi. Hatiku, juga rumah ini. “Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi' mudkhalahu,” lirihku, sesak. Segalanya sudah berubah. Dan tak akan bisa dikembalikan seperti semula lagi. *** Dua puluh lima hari kemudian. Aku tiba di badara dua jam sebelum pesawatku dijadwalkan terbang. Matahari sudah cukup tinggi, sinar teriknya menyorot tanpa ragu. Orang-orang berlalu-lalang membawa koper, roda troli bergulir, dan pengumuman penerbangan terdengar dari pengeras suara. Langkahku berhenti beberapa langkah dari pintu masuk terminal. Tas ransel di bahuku terasa lebih berat dari biasanya, padahal isinya tak banyak. Hanya beberapa pakaian, dokumen, dan alat-alat kerja dasar. Satu tahun di Tetebatu. Aku bahkan melewati desa itu setiap kali ke Lombok, tak menemukan alasan untuk mengunjunginya meski tempat itu dinobatkan sebagai salah satu destinasi eco-tourism terbaik. Napas kutarik pelan. Pandangan kufokuskan, menyapu kerumunan di depan pintu. Dan seperti yang sudah dijanjikan mereka semalam di telepon... Mehdi dan Nino berdiri di sana. Mehdi melambai begitu melihatku. Nino cosplay menarikku dengan tali. “Dokter gigi paling galau sedunia akhirnya muncul juga,” ujar Nino begitu hanya terpisah tiga langkah di antara kami. Aku mendecak. “Wa’alaikumussalam.” Nino menatap wajahku sejenak, lalu bertolak pinggang sambil menggeleng. “Nggak sempat cukuran apa?” “Sunnah,” jawabku enteng. “Sunnah dari mana? Ngarang maneh! Gondrong itu hukumnya boleh!” omelnya kemudian. “Ngeles wae kayak Ammak pas bawa motor.” “Biarkan sajalah! Cuma sikit itu gondrongnya, itu pun hanya rambut dan jenggot,” timpal Mehdi. “Coba maneh pikir, rapihin rambut sama jenggot aja eta jurig males, bro. Apalagi bulu ketek sama j****t?” balas Nino. “Ah! Malah ngomong jorok kau!” sahut Mehdi. “Sejak kapan j****t itu jorok?” lawan Nino. Aku menggebukkan buku di tanganku ke lengan kedua sahabatku itu. “Urusan anatomi jangan dibahas di fasilitas umum heh!” “Mana koper kau?” tanya Mehdi kemudian. “Nggak ada. Ransel aja biar masuk kabin. Malas nungguin bagasi,” jawabku. “Banyak kali malasmu!” timpal Mahdi. “Ayolah jalan. Beli kopi dulu di dalam,” ajak Nino seraya merangkulku. “Geus dahar can?” “Hmm, sudah,” jawabku. “Maneh berdua belum sarapan?” “Sudah atuh, apalagi si Mehdi, jam enam pagi seporsi nasi uduk sudah harus masuk lambung.” “Bisa payah aku kalau terlambat sarapan,” sahut Mehdi. Kami masuk ke dalam terminal, berjalan ke arah area check-in sambil memperhatikan kafe-kafe yang sudah buka. Sejenak, tak ada yang bicara. Dan keheningan itu justru membuatku terpikirkan satu hal... biasanya kami berempat dan sekarang hanya bertiga. Aku menoleh ke belakang, seolah tanpa sadar masih berharap seseorang berjalan mengejar kami sambil berteriak meminta ditunggu. Namun, tak ada siapa pun. Nino tiba-tiba mendecak pelan. “Biasanya si Juno yang milih urusan kopi.” Mehdi terkekeh. “Bangsatnya itu anak, tak pernah dia pilih kopi yang murah meriah. Selalu yang gelasnya kecil tapi harganya kayak beli bensin.” Senyumku lolos begitu saja. Juno memang selalu begitu. Dan sebuah pikiran terbit begitu saja. Kalau Juno ada di sini sekarang… mungkin justru aku yang tak akan berdiri bersama mereka. Mungkin aku yang keluar dari lingkaran persahabatan kami. Langkahku reflek melambat. Mehdi seolah mengerti, karena ia mencengkeram bahuku, memberi dukungan tanpa kata. Aku mengangguk singkat. Rasanya, ingin sekali mendengar kabarnya. Namun, itu tak perlu bukan? Karena hanya akan mengoyak emosiku lagi. Kami akhirnya memilih sebuah coffee shop, membeli tiga cup iced sea salt caramel macchiato. Ini pertama kalinya kami mencoba varian ini, biasanya hanya bolak-balik antara kopi hitam atau kopi s**u dengan penambahan gula manual. Aku menatap kedua sahabatku yang tampak menikmati kopi mereka. “Guys,” tegurku, membuat keduanya menjatuhkan titik pandang di wajahku. Aku mengatur napasku sejenak. “Yang punya masalah teh urang dan Juno. So, I’m okay mun kalian masih sobatan sama Juno, nggak usah ikutan musuhin itu b*****t. Tapi, nggak tau sampai kapan, urang cuma bisa kumpul sama maneh berdua. Kalau ada Juno, ya urang minggir dulu. Gitu.” Mehdi dan Nino tak ada yang menjawab, mereka hanya memandangku, lalu menyesap kopi mereka lagi. Meski begitu, aku yakin mereka mengerti. Dua puluh menit berlalu, kami lanjut melangkah. Di situlah, tepat saat aku akan memasuki area check-in, sebuah suara memanggil lanyang. “Kang Iyal!” Aku menoleh. Seorang gadis berlari kecil di antara orang-orang yang berlalu-lalang. Amanda. Ikatan rambutnya terlepas, namun ia hanya menoleh singkat, membiarkan kuncirannya jatuh dan terinjak orang lain. Lalu... dengan sedikit terengah, ia berhenti di depan kami. “Alhamdulillah… untung kekejar,” ujarnya. Aku mengerutkan kening. “Nda? Ngapain?” Gadis itu mencengir. Ia menjinjing sebuah paperbag kecil berwarna biru tua. “Ini! Buat Akang,” jawabnya sambil menyodorkannya kepadaku. Aku menerima paperbag itu dengan ragu. Tak paham apa yang sebenarnya tengah terjadi. “Apa ini?” Amanda mengatur napasnya sejenak. Ia menatapku lembut, tersenyum. “Hadiah karena sudah resmi jadi Dokter Gigi. Dari Yupi.” Dunia di sekitarku seolah berhenti sejenak. “Dia pesan ini beberapa minggu lalu,” jelasnya kemudian. “Cuma kan belum ada nama Akang. Minta tolong ke Om aku supaya diukir.” Tanganku membuka paperbag itu. Di dalamnya terdapat sebuah kotak besi. Aku mengambilnya. Menatap namaku yang terukir di kanan bawah. drg. Arial Ahsan Ihsan Kotak itu kubuka. Empat alat diagnostik gigi dasar dari stainles steel kualitas terbaik tersimpan di sana. Dan setiap handle-nya terukir inisial namaku. Jemariku terasa gemetar. Amanda tersenyum simpul, meski matanya tampak berkaca-kaca. “Yupi sampai nggak mau ngajak Nda ke kafe demi beli dental kit set itu,” ujarnya sambil terkekeh. “Katanya… biar Akang punya alat pertama yang diukir nama sendiri.” Kelu. “Dia juga bilang… biar Akang ingat dia setiap kerja. Kalau gajian, nggak lupa nraktir.” Aku terkekeh singkat. Namun, di saat yang sama, dadaku terasa sesak. Kotak itu aku angkat hingga sejajar dengan mataku. Kuperhatikan ukiran yang lebih kecil dan nyaris tak terbaca di salah satu sisinya. Best support from your little brother, Jupiter A. Ihsan. Aku mengatupkan bibirku agar tak mengerangkan tangis, bergegas menyeka air mataku yang tetap menitik meski sudah kucoba tahan. Amanda bernapas dalam, memalingkan wajah sejenak, mungkin khawatir jika aku melihat kesedihannya. Aku menutup kotak. Namun, saat akan memasukkan kembali ke paper bag, sebuah kartu tampak olehku. Kubuka, lalu k****a. Tulisan tangan adikku. Selamat sudah jadi Dokter Gigi, Kang. Jangan kecapekan. Jangan lupa makan, tapi kalau makan enak jangan lupa ajak gue. Dan jangan lupa bahagia, itu yang paling penting. Jangan lupa bahagia. Kalimat yang mirip dengan kalimat terakhirnya malam itu. Aku menutup mata sejenak. Udara bandara tiba-tiba terlalu tipis untuk kuhirup. Mehdi merangkulku. Nino mengacak-acak suraiku. Amanda tak bicara. Mereka semua seolah memberi ruang. “Nuhun, Nda,” lirihku, parau. Amanda tersenyum. “Sama-sama, Kang. Nda beberapa kali datang ke rumah… tapi Akang nggak pernah keluar kamar.” Aku terdiam. “Nda pikir… kalau nggak dikasih sekarang, mungkin nggak sempat lagi,” lanjutnya. Aku mengangguk pelan. Lalu dengan hati-hati memasukkan kotak itu kembali ke paperbag. Setelahnya, kubalas senyumnya. “Sekali lagi, terima kasih, Amanda.” Gadis itu mengangguk tipis. Mehdi mengangkat tangan kirinya, melirik arlojinya. “Walah, Yal. Sudah harus check-in kau. Pigilah cepat. Tak lucu kalau kejar-kejar pesawat itu.” Aku mengangguk, lalu memeluk kedua sahabatku. “Take your time, bro. Sembuhin luka maneh. Tapi, jangan pernah ngerasa sendirian. Kabarin urang dan si Ucok itu. Oke?” ujar Nino. “Oke,” jawabku. Sebelum menuju konter, aku menatap Amanda sekali lagi. “Titip salam buat Papi Mami, ya?” “Iya, Kang,” jawab Amanda. “Oh iya.” Aku melepas kunciran spiral yang kupakai, lalu kusodorkan ke Amanda. Ia terkekeh, namun mengambilnya. “Hatur nuhun, Akang.” “Sami-sami. Hati-hati pulangnya, Nda.” “Iya, Akang juga.” Aku berbalik. Langkahku menuju konter check-in masih terasa berat. Namun kali ini ada sesuatu yang ikut kubawa. Dan entah bagaimana, benda itu menyemangatiku. Hadiah dari adikku. Sesuatu yang akan berada di tanganku setiap kali aku bekerja. Setiap kali aku praktek. Yang akan selalu mengingatkanku... jika ada seseorang yang berharap aku bahagia.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN