BAB 28

1309 Kata

Sekitar delapan jam kemudian, roda pesawat kembali menyentuh landasan dengan hentakan halus. Aku memperhatikan pemandangan di balik jendela, kesibukan bandara di Switzerland of Central Asia ini. Malam sudah memeluk, namun langit tak sepenuhnya kelam, seolah masih menyimpan sisa cahaya yang enggan benar-benar menghilang. Di kejauhan, siluet pegunungan nyaris tak terlihat, hanya garis samar yang membelah horizon. “Sudah sampai,” gumam Amanda. “Welcome to Kyrgyzstan, Nda,” timpalku. Ia menoleh. “Akang sudah berapa kali ke sini?” tanyanya kemudian. “Baru ini,” tanggapku. “Nda?” “Sama, Kang.” Amanda lalu menguap, kemudian meregangkan tubuhnya. “Ternyata Nda ngantukan,” tanggapku. Ia terkekeh. “Iya banget. Makanya Nda sering banget telat turun kalau naik angkot. Kadang saking ngantukn

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN