“Minum dulu, Yal,” ujar Mami, menyodorkan segelas air padaku. “Ma-makasih, Mami.” Aku meraihnya. Tanganku… masih gemetaran. “Jadi, siapanya Amanda?” tanya Om Borne. Amanda mendengus tiba-tiba. “Pacar Nda, Ayah,” rengeknya. Ayah? Sepertinya keluarganya punya kebiasaan menyematkan panggilan yang lebih erat. “Ayah nanya Arial. Nda diem aja dulu. Nanti berasa nyaman dia dibelain,” sahut Om Borne. Gini amat nasib hamba, ya Allah. “Yal?” Om Borne kembali fokus padaku. Aku mengangguk. “Saya pacar Amanda, Om,” jawabku. “Kenapa Amanda?” Kali ini Om Dirga yang menyela. Aku mengeryit singkat. Pertanyaannya sederhana. Tapi… jawabannya? Tak akan sesederhana itu. “Kenapa Amanda?” ulang beliau. Aku menghela napas pelan. Menatap satu per satu wajah di samping dan depanku. Om Borne. Om

