Aku melangkah keluar dari rumah itu tanpa menutup pintu. Tak pula menutup pagar.
Gang yang kususuri terasa lebih sempit dari sebelumnya. Udara di sekitar lebih berat. Suara motor yang lewat terdengar seperti datang dari tempat yang teramat jauh.
Aku berjalan menuju mobil.
Kepalaku kosong.
Amarahku menguap entah ke mana.
Kepalan tanganku pun melemas, tak lagi berkeinginan menghantamkan pukulan, justru gemetar saat kuselipkan ke saku celana, dan ujung-ujung jemariku terasa dingin.
Tiga jam lalu aku berangkat dari Jakarta dengan pikiran ringan tanpa prasangka. Berbalas candaan dengan adikku, tertawa sepanjang jalan. Aku bahkan sempat membayangkan sarapan besok pagi dengan Erin sebelum pulang.
Pikirku... kami pasti sama-sama bersemangat menyambut pertunangan dua hari lagi.
Aku berhenti sejenak, bersandar ke dinding gang, menarik napas dalam.
Di saat yang sama, kenangan pertemuan pertama kali dengan Erin memenuhi ingatanku.
***
“Ini Erin, tingkat dua Administrasi Niaga. Satu kampus sama kamu, Yal,” ujar Om Bima, bangga.
“Oh iya, Om?” balasku, cukup terkejut. “Berarti saya yang mainnya kurang jauh.”
Erin tersenyum, manis sekali. “Nanti koasnya di Sekeloa, ya Kang?” tanyanya kemudian.
“Insya Allah,” tanggapku.
“Tetap main ke Jatinangor tapi, kan Yal?” timpal Om Bima.
“Iya dong, Om.”
Tinggal beberapa bulan lagi aku akan menyelesaikan program strata satu Kedokteran Gigi. Kuliahku cukup padat. Aku pulang ke Jakarta hanya jika benar-benar ada urusan keluarga atau hal penting yang tak bisa diwakilkan. Selebihnya, biasanya Mama, Papa, dan adikku satu-satunya yang datang berkunjung ke kontrakanku. Dan akhir pekan ini aku pulang karena Papa meminta kami menemani beliau menghadiri undangan makan malam dengan seorang teman lama. Aku tak banyak bertanya, kuiyakan, tak keberatan sama sekali.
Restoran itu cukup tenang. Lampunya temaram, interiornya terlalu formal untuk sekadar silaturahmi biasa.
Saat kami tiba tadi, Om Bima sudah tiba lebih dulu. Ia juga tak sendiri, namun datang bersama Tante Galuh dan seorang gadis yang langsung menarik perhatianku.
Erin.
Putri bungsu keduanya.
Surainya hitam panjang, sedikit bergelombang di ujung, tertata rapi. Parasnya pun ayu natural, tak bosan dipandangi.
Perbincangan berlanjut, kali ini tertuju ke adikku dan kakaknya Erin—yang tak turut serta. Kami berdua tak banyak berkomentar, lebih sering saling beradu tatap dan berbalas senyuman.
“Erin ini anaknya rajin, Yal. Nggak pernah macam-macam. IPK-nya juga bagus,” ujar Om Bima lagi.
Canggung rasanya.
“Ayah…” Erin protes malu-malu.
“Lho, Ayah cuma cerita kok.” Om Bima membela diri. “Kalau Arial, sudah punya pacar belum?”
Sendok di genggamanku berhenti di udara.
Aku terkekeh kaku. “Belum kok, Om,” jawabku, berusaha terdengar biasa saja.
“Bagus tuh,” tanggap Om Bima. “Anak muda zaman sekarang banyak yang hobi pacaran nggak jelas. Kalau memang dekat, ya harus serius. Apalagi kalau satu almamater. Bisa saling jaga.”
Sungguh manuver yang unpredictable sekali!
Kata ‘jaga’ itu jelas diucapkan penuh maksud. Namun, sepertinya Om Bima tak menyadari itu, atau memang ia sudah merencanakan ini sedari awal.
“Jatinangor-Sekeloa nggak jauh-jauh amat kan, Yal?” ujarnya lagi.
“Nggak kok, Om. Masih gampang ditempuh,” jawabku.
“Kalau gitu, Om bisa dong ya nitip Erin ke kamu? Dijagain.”
Aku tahu maksudnya.
Papa juga tahu maksudnya.
Semua orang di meja ini pasti tahu maksudnya. Bahkan adikku sekalipun.
Namun, tak ada yang berusaha mengkonfirmasi secara terang-terangan.
Erin hanya tersenyum. Ia tak membantah.
Makan malam kami berakhir. Aku dan Erin hanya bertukar nomor ponsel dan berjanji untuk saling menyapa. Tak lebih. Namun bagiku, rasanya seperti ia membuka pintu hatinya lebar-lebar.
“Yal? Kamu paham maksud Bima tadi?” tanya Papa saat mobil kami menjauh dari restoran.
Aku menoleh singkat ke ayahku, lalu memberi anggukan. “Paham, Pa,” jawabku.
“Di dunia bisnis, pendekatan kayak tadi itu biasa,” lanjut Papa. “Nggak harus kamu ambil hati. Kalau kamu nggak suka, ya nggak apa-apa. Papa nggak akan paksa kamu dekat sama siapa pun.”
Aku mengangguk pelan.
Benar. Papa tak pernah memaksaku dalam hal-hal pribadi.
“Tapi….” Aku melirik Papa sejenak.
“Tapi apa?” balas Papa
“Erin cantik kok, Pa.”
Papa hanya tersenyum simpul.
***
Kenangan itu berhenti berputar tepat saat aku tiba di depan mobilku.
Aku membuka pintu.
Yupi langsung menoleh. “Lama banget, Kang?”
Aku duduk tanpa menjawab.
Tanganku terulur, hendak menekan tombol ‘start engine’ lagi.
Yupi mencegah, menahan lenganku. Mesin memang tidak mati saat mobil kutinggalkan. Aku saja yang kehilangan fokus.
“Ada apa, Kang?” tanya adikku.
Aku tak langsung berkisah. Pikiranku masih kosong.
Tanganku merogoh saku, mengambil ponsel. Tadinya hendak menghubungi Papa, namun justru terdistraksi memori sebuah chat yang aku terima beberapa bulan lalu.
Aku mengetuk ikon ‘search’, mengetik ‘Rain’.
Nama seorang kawan yang sudah lama tak aku hubungi muncul. Aku membuka room chat kami.
***
Rain: Woy!
Arial: Wih, dr. Rain. Kesambet apa lo nge-chat gue? Jangan bilang minta gue jadi relawan buat latihan pasang cannula.
Rain: Ngga perlu! Udah jago gue mah. Kecuali lo mau jadi relawan bongkar jantung.
Arial: Jurig!
Rain: 😂
Rain: 📷 Kalau nggak salah, ini cewek lo bukan, Yal?
Arial: Iya. Kok bisa di sana?
Rain: Mana gue tau. Nggak gue tanya juga. Kenal juga nggak, masa iya gue berani kepo.
Arial: Salfok! Poli Kebidanan dan Kandungan?
Rain: Iya.
Arial: Sendirian?
Rain: Nggak tau gue, Yal. Gue keburu dipanggil konsulen. Dan nggak kepikiran juga buat nyari tau. Lo pikir gue segabut itu?
Arial: Panjang bener ocehan lo! Sialan lo, Rain! Panik nih gue!
Rain: Emang lo apain anak orang sampai perlu panik?
Arial: Nggak gue apa-apain!
Rain: Ya kalau nggak lo apa-apain, ngapain lo panik? Telpon aja cewek lo. Orang ke obgyn nggak selalu karena hamil, bro. Bisa aja vaksin HPV.
Arial: Iya sih.
Rain: Okelah, selamat mencari tau. Gotta go, man!
Arial: Oke, bro. Hatur nuhun.
***
Waktu itu aku memang menelepon Erin.
Ia menjawab pertanyaanku dengan santai, membuatku yakin jika tak ada hal yang salah. Erin bilang, ia ke obgyn untuk cek hormon berhubung siklusnya kacau dan membuat tubuhnya tak nyaman. Katanya, ia tak mau membuatku khawatir di tengah kesibukanku menjalani koas.
Aku percaya.
Karena aku ingin percaya. Karena aku tidak bisa membayangkan kehilangan dirinya.
Senaif itulah aku.
Bahkan kecurigaanku lenyap tak bersisa.
Sekarang aku tahu, mungkin itu pertama kalinya aku memilih untuk tak melihat.
Di kaca depan, bayanganku sendiri tampak asing.
Kelebat kejadian tadi terlintas lagi.
Sepatu itu.
Senyumnya di ranjang.
Caranya mendekati Juno.
Makian.
Anjing.
Aku sungguh kecewa.
Remuk.
Namun yang paling memalukan... aku masih mencintainya.