“Mbak Zeusyu, bagaimana perasaannya dipersunting oleh seorang penerus Tirto?!” Zeusyu mengulas senyumnya, membuat blitz kamera semakin sering diarahkan ke arahnya. Wanita cantik itu memalingkan wajahnya, menatap Niel untuk beberapa saat. “Sangat membahagiakan,” jawabnya sembari menjatuhkan telapaknya pada punggung tangan Niel, sebelum mengembalikan tatapannya kepada para pemburu berita. “Seluruh gadis di Indonesia secara terang-terangan menyerukan seruan iri mereka terhadap Mbak Zeusyu. Bagaimana tanggapan Mbak tentang hal ini?” “Tanggapan saya?!” “Ya, Mbak. Seperti yang kita semua ketahui, Mbak dan Mas Nathaniel sudah dijodohkan sedari kalian kecil. Mereka menduga mungkin,” ucapan sang pewarta tak vokal sebelumnya. Ia menyadari jika apa yang akan diajukan merupakan sesuatu yang begitu

