Seperti Orang Ketiga

2124 Kata
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi. Suara yang selalu ditunggu-tunggu, sekaligus suara yang sering membawa rasa campur aduk. Dede menutup bukunya, memasukkannya ke dalam tas dengan gerakan rapi seperti biasa. Di luar kelas, suara siswa mulai ramai, langkah - langkah tergesa bercampur tawa dan rencana pulang. Seperti yang sudah - sudah, Arsya menghampirinya. Hal itu sudah menjadi kebiasaan yang bahkan tidak pernah mereka bahas lagi. Arsya membawa mobil, sopir Dede jarang menjemput kalau Arsya ada, dan Dede pun sudah terbiasa ikut pulang bersamanya. Tidak ada yang aneh dan tidak ada yang harus dipertanyakan, setidaknya sampai sore ini. Mereka berjalan berdampingan menuju parkiran mobil di luar pagar sekolah. Suasana halaman sekolah masih ramai, beberapa siswa juga tampak keluar menuju deretan mobil jemputan masing - masing yang sudah terparkir rapi. Langkah Arsya terlihat santai seperti biasa, tangannya menggenggam kunci mobil sambil memutar - mutarnya. Lalu, seolah baru teringat sesuatu, Arsya menoleh ke arah Dede. "De, nggak apa - apa ya, kalau Sandra ikut kita, nanti kita antar Sandra pulang dulu." Kalimat itu jatuh begitu saja. Terlalu santai. Terlalu terlambat. Dede terdiam sepersekian detik. Kalau Arsya bilang dari tadi, mungkin ia masih punya waktu untuk menolak. Bisa saja ia bilang mau pulang sama Tanti, atau pura - pura ada urusan lain. Tapi sekarang? Mereka sudah setengah jalan ke mobil, menolak justru akan terasa aneh, berlebihan, dan yang paling Dede hindari adalah, ia akan terlihat baper. Ia menelan ludah. "Iya nggak apa - apa." Jawaban itu keluar dengan suara yang terdengar ringan. Padahal di dalam dadanya, kalimat itu terasa seperti di mulut berkata iya, di hati berkata apa boleh buat. Tidak lama kemudian, tampak Sandra berjalan ke arah mobil Arsya. Ia tidak dijemput, tidak dipanggil, tapi jelas tahu ke mana harus melangkah. Mobil sedan hitam Arsya terparkir rapi di luar halaman sekolah, persis di sebelah mobil Arman. Arman sendiri sudah berdiri di samping mobilnya. Ia melirik Dede, lalu berkata santai, " Pulang sama aku aja, De." Entah ia tahu suasana atau tercetus begitu saja karena melihat Sandra berjalan menuju mobil Arsya. Dede tersenyum kecil. Ia tahu maksud Arman baik. Ia juga tahu, ajakan itu tulus. Namun sebelum ia sempat menjawab, Arsya sudah lebih dulu bersuara. "Nggak apa - apa Bang, nanti aku antar dia pulang ... tenang aja." Arman mengangkat alis, lalu mengangguk kecil. Ia mengenal adiknya, tugas mengantar Dede memang hampir selalu menjadi bagian Arsya, bukan dirinya, tapi entah kenapa Ia seperti tidak tega melihat Dede ada di antara Arsya dan calon pacar barunya, seperti orang ketiga, padahal bukan. Dede terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana. "Tenang aja , biar ku ganggu dulu orang dua ini, bang." Nada bicaranya terdengar bercanda, bahkan nyaris ceria. Kalau orang lain melihat, mungkin akan mengira semuanya baik-baik saja. Padahal hanya itu yang bisa Dede lakukan, terlihat asik. Sandra sudah lebih dulu membuka pintu depan dan duduk di kursi penumpang. Dede tidak banyak berpikir. Ia membuka pintu belakang dan duduk di sana. Pilihan itu terasa paling aman. Paling netral. Paling tidak menyakitkan meskipun biasanya kursi yang diduduki Sandra sekarang adalah tempat duduknya. Tapi sekarang siapa yang peduli? Mobil melaju meninggalkan parkiran depan sekolah. Di dalam mobil, percakapan mengalir ringan. Sandra bercerita tentang tugas, tentang teman-temannya, tentang hal - hal kecil yang terdengar akrab di telinga Arsya. Arsya menanggapi dengan sesekali tertawa, sesekali menyahut singkat. Dede mendengarkan dari belakang, menatap keluar jendela, memperhatikan jalanan yang mulai dipenuhi kendaraan sore. Ia tidak merasa tersingkir. Ia hanya merasa berada di tempat yang selalu sama, tapi dengan jarak yang berbeda. Beberapa menit berlalu. Dede memperkirakan mereka akan segera menuju rumah Sandra. Jalanan yang dilewati sudah mengarah ke sana. Namun tiba - tiba, Arsya membelokkan setir ke arah lain. "Eh," Sandra bersuara pelan, "bukannya ini bukan jalan ke rumahku?" Arsya tertawa kecil. "Iya. Kita mampir bentar, nggak lama, ngopi - ngopi dulu kita." "Ngopi ke mana?" tanya Sandra, nadanya terdengar penasaran, bukan keberatan. "Cafe dekat simpang, aku pernah kesana sama Dede, kue - kuenya enak, iya kan De." Dede menghela napas pelan, nyaris tak terdengar. "Iya," jawab Dede ringan. Mobil berhenti di depan sebuah cafe dengan tampilan estetik. Kaca besar, lampu hangat, dan deretan kursi yang terlihat nyaman dari luar. Jelas bukan tempat makan berat. Lebih ke tempat ngopi cantik, duduk santai, dan mencicipi cake - cake kecil yang tampilannya lebih cantik daripada porsinya. Mereka turun dari mobil. Dede sempat berpikir untuk menolak. Tapi sekali lagi, semuanya sudah berjalan terlalu jauh. Ia memilih mengikuti alur, seperti yang selalu ia lakukan selama ini. Toh ini bukan pengalaman pertama. Dede sudah terlalu sering berada di posisi ini, duduk di dekat Arsya, menemani, mendengarkan, tersenyum, sementara di depannya ada perempuan lain yang perlahan-lahan mengambil tempat yang tidak pernah berani ia klaim. Mereka masuk ke dalam cafe. Arsya memesan tiga minuman dan beberapa potong cake. Sandra tampak antusias memilih, sementara Dede hanya mengangguk-angguk dan asal tunjuk saat ditanya mau apa. Mereka duduk di meja dekat jendela. Arsya dan Sandra berhadapan. Dede duduk sedikit menyamping, cukup dekat untuk terlibat, cukup jauh untuk tidak merasa terlalu masuk. "De, kamu pilih cake yang mana tadi?" tanya Arsya sambil mendorong piring ke arahnya. Sampai cake yag mana pilihan Dede pun tidak ia perhatikan. "Itu," tunjuk Dede ringan. Sandra tersenyum. "Kalian ini saudara ya?" tanya Sandra yang memang belum terlalu tahu sejarah persahabatan Dede dan Arsya, maklum lah ia kan siswi pindahan dari Jakarta beberapa bulan yang lalu. Cara bicaranya pun masih dengan logat Jakarta tapi berusaha terlihat 'Medan'. "Nggak," jawab Dede. "Iya," jawab Arsya. Mereka menjawab hampir bersamaan, tapi dengan jawaban yang berbeda. Sandra malah terlihat bingung, mana yang harus ia percaya? "Kami ini bersahabat dari kecil, keluarga kami juga berteman ... Jadi udah kayak saudara," jelas Arsya. "O gitu." Di dalam hati, Dede sangat tahu saat ini Arsya belum jadian dengan Sandra. Ia tahu karena Arsya biasanya selalu bercerita. Kalau berhasil menembak cewek, Arsya akan langsung melapor, begitu juga kalau putus. Transparan, tanpa rahasia. Dan sampai sore itu, Arsya belum pernah mengatakan apa - apa. Itu sebabnya Dede masih di sini. Masih menemani. Masih tersenyum. Masih menyimpan perasaan yang sama, meski perlahan mulai belajar mengemasnya lebih rapi. Ia tidak berharap banyak. Tidak berharap dipilih hari ini, atau besok. Ia hanya ingin tetap berada di sisi Arsya, selama itu masih memungkinkan tanpa melukai siapa pun. Sore itu berlalu dengan obrolan ringan, tawa kecil, dan piring - piring cake yang perlahan kosong. Dede ikut tertawa di waktu yang tepat, ikut mengangguk saat dibutuhkan, dan kembali menyimpan segala sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Dan di dalam mobil, saat mereka akhirnya melanjutkan perjalanan, Dede kembali duduk di kursi belakang. Menatap jalanan, menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca jendela. Ia tidak marah. Ia tidak cemburu secara berlebihan. Ia hanya sedang mencintai dengan cara yang sunyi. Dan sejauh ini, ia masih sanggup. -- Mobil kembali melaju setelah mereka keluar dari area cafe. Langit Medan mulai berubah warna, jingga pucat bercampur abu - abu tipis. Ini masih sore, baru jam lima, tapi ada mendung jadi agak gelap. Sandra duduk di depan dengan tubuh sedikit condong ke arah Arsya. Mereka membicarakan hal-hal ringan, tentang tempat makan yang ingin dicoba lain kali, tentang film yang sedang ramai dibicarakan, tentang rencana akhir pekan. Arsya menanggapi dengan nada santai, sesekali tertawa kecil, sesekali hanya menjawab singkat. Dede mendengarkan dari kursi belakang. Ia tidak ikut menyela, tidak juga benar - benar tenggelam. Posisinya seperti itu sejak dulu, hadir tanpa mengganggu, dekat tanpa memaksa. Beberapa menit kemudian, mobil berhenti di depan rumah Sandra. Lampu teras rumah menyala terang, pagar setengah terbuka. Sandra melepas sabuk pengamannya dan menoleh ke arah Arsya. "Makasih ya," katanya sambil tersenyum. "Hari ini seru, aku suka jalan sama kamu." Kamu aja katanya? Fix Dede tak dianggap ada. "Iya,sama - sama," jawab Arsya. "Besok pulang sama - sama lagi, ya." Sandra mengangguk. Sandra membuka pintu, lalu sempat menoleh ke belakang, ke arah Dede. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik, tapi hanya tersenyum, tidak pamit. Ya sudahlah, Dede juga masa bodoh. Pintu tertutup. Arsya menunggu sampai Sandra benar - benar masuk ke rumah sebelum kembali meneruskan perjalanan. "Kok enak aja duduk dibelakang, pindah lah sini. Sudah kayak sopir aja, aku," ucap Arsya menoleh ke belakang. "Sudah pantas juga kok jadi sopirku," jawab Dede yang melangkahkan kakinya lewat samping kursi, sebelumnya ia melemparkan tasnya ke depan. Ia tidak pindah dari luar mobil. "Ish ... sepatumu itu kotor kena jok," protes Arsya. "Sepatuku bersih!" balas Dede. Arsya mendengus, sekarang saatnya mode Tom n Jerry. Perjalanan ke rumah Dede pun dimulai. "Cemana menurutmu si Sandra tadi, De?" "Cantik lah ... seperti biasa." "Seperti biasa kekmana maksudnya?" "Iya, cewek pilihanmu kan cantek-cantek. Jadi sama aja kek yang sudah - sudah." "Mana sama ... Ini blasteran, yang dulu kan Indonesia Raya." "Aku pun blasteran, mamaku Magelang, papaku Medan, apa bedanya?" Arsya tertawa. "Makin lama kok makin lucu aja kulihat, jangan jauh-jauh dari aku ya." Dede mendengus. Hening beberapa detik. "Jadi kutembak aja lah ya si Sandra itu, setuju nggak?" "Terserah." "Janganlah bilang terserah, tinggal bilang aja iya atau enggak." Ucapan Arsya itu lebih mirip sebagai permintaan persetujuan yang agak memaksa. Dede menatap jalanan di depan, memperhatikan garis putih yang terus bergulir di bawah lampu mobil. Ada banyak hal yang bisa ia katakan sebenarnya, tentang kantin, tentang coklat, tentang rasa aneh yang datang dan pergi. Tapi tidak satu pun keluar dari mulutnya. Dan Arsya malah bertanya pendapatnya soal kelanjutan hubungannya dengan Sandra. Ternyata hidup ini memang berat. "Aku nggak mau ikut campur urusan itu, soal kamu mau nembak cewek ya terserah kamu aja lah, nanti kalau aku terlalu ikut campur, dibilang pula aku cerewet. Suka-sukamu aja Sya ... Kalau memang sor kali, tembak, kalau udah nggak suka, ya putuskan, nggak usah repot kali lah pakai tanya - tanya pendapatku." "Penting juga aku nanya, nanti kalau aku udah nggak cocok terus mau curhat, nggak kena salah juga, aku ...kan? Sudah pernah disetujui, soalnya." "Sudah kubilang suka hatimu aja, suka nggak suka pun aku, tetap aja dapat jatah curhat nantinya. Nggak mungkin nggak aku dengar, kan?" "Ah memang baik kali lah sahabatku ini. Ku traktir kwetiau nanti ya." "Yang babi?" Arsya tertawa ngakak. "Bisa digantung om Sapta aku." Mereka berkendara dalam diam beberapa saat. Radio menyala pelan, memutar lagu lama yang nadanya lembut. Arsya mengemudi dengan satu tangan di setir, tangan lainnya sesekali mengetuk - ngetuk ringan mengikuti irama. "De," panggilnya lagi. "Hm?" "Makasih ya hari ini." Dede menoleh. "Kenapa pula?" "Sudah temani aku sampai sore ini," jawab Arsya santai. "Kamu nggak pernah ribet." Dede tersenyum kecil. "Dari dulu pun aku nggak pernah ribet, bagian siapa yang ribet itu?" "Bagian Bang Arman," jawab Arsya lalu tertawa ngakak. Dede pun ikut tersenyum. Untuk bagian itu Arsya pasti selalu menunjuk Abangnya, mana mau ia mengakui bahwa ia ribet. Tawa Arsya membuat Dede merasa, untuk sesaat, semuanya kembali ke posisi lama. Seperti dulu. Seperti sebelum ada nama lain di antara mereka. Mobil berhenti di depan rumah Dede. Lampu teras sudah menyala. Gerbang terbuka. Dede membuka pintu, menurunkan satu kaki ke luar, lalu berhenti sejenak. "De," panggil Arsya. Dede menoleh lagi. "Hati - hati masuk." "Iya," jawab Dede. "Nggak mau turun dulu?" "Nggak usah lah ya, Nanti mama ngomel pula aku pulang lama." "Ya udah, sampaikan salamku buat Tante Ana." "Kalau ditanya mamaku kapan kamu ke rumah, apa jawabku?" "Bilang aja kapan - kapan." "Betul ya, aku jawab gitu," ancam Arsya. Dede tertawa. "Awas aja kalau berani. Nantilah habis ulangan minggu ini." "Eh, De ... Lusa kimia, Besok aku ke sini lagi ya. Apa pulang sekolah aja ya langsung?" "Terserah, asal jangan lenggang kangkung." "Mau ku bawakan apa, Pizza? Atau kwetiau babi tadi?" Dede tertawa lagi,"Suka hatimu lah!" jawabnya sambil menutup pintu mobil. Ia melangkah mundur dan menjauh. Arsya menekan klakson sekali sebelum mobilnya berjalan pergi. Setelah masuk ke dalam rumah Dede langsung menuju kamarnya. Di kamarnya, Dede menjatuhkan tas di kursi belajarnya, lalu duduk di tepi ranjang. Ia meraih tas dan membukanya perlahan, mengeluarkan bungkus coklat yang sejak pagi belum tersentuh. Bungkusnya masih rapi, tidak penyok, tidak sobek. Ia memandanginya lama. Coklat yang sama. Coklat yang ternyata bukan hanya untuknya. Dede tersenyum kecil, kali ini lebih jujur, lebih lelah. Ia membuka bungkusnya dan mematahkan sepotong kecil. Rasa manisnya menyebar pelan di lidah, tidak berlebihan, tidak juga mengecewakan. "Tetap enak," gumamnya pelan. Malam itu, Dede belajar seperti biasa. Mengerjakan tugas, membuka buku, mencatat hal - hal penting. Sesekali ponselnya menyala karena pesan masuk dari Tanti, dari grup kelas, dari nomor-nomor lain. Tidak ada dari Arsya. Dan itu tidak apa - apa. Kalau hari-hari nanti berjalan dengan ritme yang hampir sama. Arsya tetap ramah, tetap mengajaknya pulang bersama, tetap bercerita tentang hal-hal kecil, atau Sandra juga semakin sering terlihat bersama Arsya, di kantin, di lorong kelas, Dede tetap di tempatnya. Ia tidak menjauh, tidak juga mendekat lebih dari sebelumnya. Ia belajar mengatur jarak dengan caranya sendiri. Tetap tersenyum, tetap membantu, tetap menjadi tempat Arsya kembali saat lelah, tanpa berharap lebih.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN