Kemarahan

2217 Kata

Hujan turun tipis-tipis sore itu, membasahi jalanan Rue de Rivoli dengan kilau keperakan. Sherina memandang keluar jendela apartemen mereka sambil menggendong bayi yang baru selesai menyusu. Dominick berdiri di belakangnya, tangan besar hangat di pinggang sang istri yang sudah meramping saat ini. Paris sore itu terlihat damai. Terlalu damai, bagi seorang pria yang terbiasa mencium bau perang. Atau seorang istri yang biasa terkejut dengan segala macam ancaman yang selalu menyerang. "Kamu tampak gelisah, Sayang?" bisik Sherina tanpa menoleh ke arah sang suami Dominick tidak ingin berbohong pada istrinya, jadi dia mengangguk pelan. "Tadi malam... seseorang mengawasi kita. Semoga ini hanya perasaanku, dan aku tidak suka perasaan itu." Keluhnya seolah ada beban yang ingin dia lepaskan dari

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN