Di dalam kabin kelas bisnis yang tenang, hanya terdengar suara dengung mesin pesawat yang stabil. Namun, bagi Amindita, ketenangan itu sama sekali tidak membantu meredakan kejengkelannya. Kalau boleh jujur, Amindita lebih memilih duduk di kelas ekonomi sendiri saja. Tanpa adanya pria yang Amindita maksudkan itu di sampingnya. "Duh Mas, kamu tuh berat tau nggak?" gerutu Amindita untuk yang kesekian kalinya. Suaranya ia tekan seminim mungkin agar tidak mengganggu penumpang lain, namun nada ketusnya tetap terasa tajam. Penekanan disetiap kalimat yang menggambarkan bahwa ia lelah, letih, dan ingin segera turun dari pesawat ini. Lebih tepatnya melarikan dari pria ini. Bukannya menjauh, kepala besar Praditya yang bersandar di bahunya justru bergerak sedikit, seolah sedang mencari posisi ya

