"Mas... udah... akh—" rintih Amindita, kepalanya mendongak dengan mata terpejam saat bibir Praditya kembali menemukan titik sensitif di lehernya. Gorden sutra di Presidential Suite itu telah tertutup rapat, mengunci kebisingan kota Surabaya di luar sana. Di bawah temaram lampu nakas yang memberikan semburat jingga keemasan, suasana di atas ranjang king size itu terasa begitu intens dan menyesakkan. Napas Amindita memburu, dadanya naik turun dengan tidak teratur saat Praditya kembali mendominasi setiap jengkal kulitnya. Makan malam tadi memang berjalan lancar, namun bagi Praditya, setiap detik yang ia habiskan untuk bicara bisnis dengan Dialta adalah siksaan karena pikirannya terus tertambat pada wanita di sampingnya. Begitu pintu suite terkunci, hasrat dan rasa lapar yang sejak tadi ia

