Amindita keluar dari gedung Ararya Group dengan langkah gontai, seolah gravitasi bumi mendadak berlipat ganda menekan pundaknya. Ia tidak memanggil taksi daring atau menunggu jemputan. Ia hanya berjalan menyusuri trotoar Jakarta yang bising, membiarkan deru klakson dan polusi menyamarkan kekacauan di dalam dadanya. Di tangannya, ia masih meremas tasnya dengan kuat, seolah benda itu adalah satu-satunya hal nyata yang tersisa dalam hidupnya yang kini terasa seperti panggung sandiwara. Sementara itu, di lantai eksekutif, suasana masih mencekam. Praditya menepis tangan Wira dari bahunya dengan sentakan kasar. Matanya merah, bukan karena air mata, melainkan karena amarah yang mendidih dan frustrasi yang tak tersalurkan. "Kau keterlaluan, Wira! Dia istriku!" desis Praditya, suaranya parau mena

