Cahaya matahari pagi Surabaya yang terik mulai menerobos masuk melalui celah gorden otomatis yang terbuka sedikit, menyinari lantai marmer kamar President Suite. Amindita mengerjapkan mata, merasakan pegal yang manis di sekujur tubuhnya akibat aktivitas malam tadi. Ia meraba sisi tempat tidurnya, namun yang ia temukan hanyalah seprai yang sudah dingin. "Mas Pradi?" gumamnya serak. Kesadaran penuh segera menghampirinya. Ia bangkit perlahan, mengabaikan rasa lemas di lututnya. Matanya tertuju pada kimono sutra tipis yang teronggok di lantai—sisa-sisa "keliaran" malam tadi. Ia meraihnya, menyampirkannya ke tubuh, dan mengikatnya asal-asalan. Amindita melangkah keluar dari kamar utama menuju area pantry yang luas. Di sana, ia melihat sosok yang dicarinya. Praditya berdiri membelakanginya di

