Keesokan paginya, semburat cahaya matahari fajar perlahan menerobos masuk melalui celah gorden ruang VVIP Rumah Sakit Pusat Ararya. Keheningan ruangan medis itu perlahan terusik saat kelopak mata Amindita bergerak-gerak gelisah. Efek obat penenang yang menjerat kesadarannya semalaman kini mulai memudar, memaksa jiwanya ditarik kembali ke dunia nyata. Amindita membuka matanya perlahan. Indra penciumannya seketika disambut oleh aroma khas antiseptik yang menyengat, sementara pandangannya menangkap langit-langit putih dan selang infus yang menggantung di sisinya. Hanya butuh waktu beberapa detik bagi otak Amindita untuk merekam kembali memori mengerikan kemarin siang. Bayangan wajah gila Widya, cengkeraman kasar, rasa melayang di udara, dan hantaman keras di lantai marmer seketika berputar

