Malam telah larut ketika Range Rover hitam milik Praditya perlahan memasuki pelataran luas mansion utama Ararya. Kilau lampu-lampu kota Jakarta yang bising seketika tergantikan oleh ketenangan dekorasi klasik modern abad pertengahan yang hangat di dalam rumah. Langkah kaki Praditya terdengar berat saat memasuki lobi utama, bahunya tampak tegang setelah berjam-jam menghadapi tekanan rapat umum pemegang saham dan perdebatan sengit dengan jajaran direksi. Namun, semua beban yang menggelayuti pundaknya seolah menguap begitu saja saat matanya menangkap sosok wanita yang berdiri menantinya di dekat pembatas ruang tengah. Amindita berdiri di sana dengan senyum paling tulus yang selalu ia simpan untuk suaminya. Mengingat kandungannya yang sudah menginjak enam bulan, Dita mengenakan dress tidur b

