Hari ini, atau lebih tepatnya malam ini. Bian bersama keluarganya mebdatangi kediaman Devinka. Sesuai dengan janji plus pembahsan kemarin, Bian benar-benar memberi Devinka kesempatan pertama dan tentu yang terakhir juga. Mungkin untuk orang lain ini malam membahagiakan, tapi tidak buat Bian. Hatinya terasa biasa saja, tidak ada yang spesial. "Kenapa wajah kamu datar begitu?" Teguran itu membuat Bian menoleh ke arah Flora yang duduk di sampingnya. "Memang apa yang salah sama wajahku? Mama berharap wajahku seperti apa?" "Ini malam spesial kamu, malam di mana kamu mau melamar anak orang. Kenapa wajah kamu ngga ada bahagia-bahagianya?" Mendengar itu Bian hanya bisa menghela napas. Sepertinya apapun yang dia lakukan sekarang semuanya serba salah di mata Flora. Bian melirik ke bangku depan,

