“Surprise!” Suara Shaga berhasil menyadarkan Noa dari reaksi terkejut karena kedatangannya yang tiba-tiba. Tanpa pemberitahuan dan kini berdiri di hadapan gadis itu, berharap bisa membuat senang. Akan tetapi, Shaga justru mendapati raut wajah Noa yang perlahan berubah dari terkejut menjadi sedih. Siapa yang tidak bingung dengan perubahan ini karena tidak sesuai dengan yang diharapkan. Shaga memperhatikan Noa dengan seksama agar tidak salah melihat. “Kamu nggak suka ya aku nyusul ke Bali? Tiba-tiba reaksi kamu jadi sedih begini, apa aku ada salah?” Tanpa mau menjawab, Noa menghamburkan pelukan kepada Shaga. Kedua tangannya memeluk dengan erat, diiringi air mata yang perlahan mengalir dari sudut matanya. perasaannya bercampur aduk sampai sulut untuk bicara. “Ada apa, Noa? Kenapa kamu jad