“Kamu bukan kakakmu. Sekalipun saudara kandung, selamanya enggak akan pernah sama. Jadi, harap sadar diri sejak awal.”
Kalimat itu terdengar bagai petir di siang bolong. Diucapkan dengan tenang, tetapi nadanya terdengar menekan.
Mata itu juga menyorot tajam, penuh akan penghakiman. Seolah-olah, semua kesalahan adalah ulahku.
Padahal, aku tidak tahu apa-apa. Aku juga korban.
“Yang aku cintai itu kakakmu, bukan kamu. Seterusnya akan begitu,” lanjutnya.
“Kalau memang gitu, kenapa tetap mau menikahiku?”
“Karena itu permintaannya.”
“Permintaannya? Mbak Kiki sempat menghubungimu, Mas?”
“Enggak usah banyak nanya.”
Aku tersenyum miring. Merasa lucu dengan takdir yang sedang bermain-main.
“Tapi karena aku sudah mengambil keputusan, kamu tenang saja. Aku akan tetap bertanggung jawab. Sebagai suami, aku bisa memenuhi semua kebutuhanmu. Baik itu nafkah lahir maupun nafkah batin—"
“Enggak perlu!” aku memotong cepat. “Lupakan soal nafkah batin. Nafkah lahir saja cukup.”
“Oke.”
“Kalau gitu, aku tidur di mana? Aku lelah.”
“Kamar tidur utama. Itu pintunya.” Tangan kekar itu menunjuk pintu tinggi sebelah kanan. “Aku yang akan tidur di ruang kerja. Di sana ada ranjang.”
“Makasih.”
Aku bangkit, lalu menarik koperku.
Aku ingin segera tidur. Resepsi hari ini terlalu melelahkan.
“Naura …”
“Apa?” aku berhenti sejenak, lalu menoleh. “Mau bahas Mbak Kiki lagi?”
Dia menggeleng.
“Lalu?”
“Besok aku daftarkan sidik jarimu buat pintu rumah ini.”
“Kalau tanpa sidik jari, PIN-nya berapa?”
“Ulang tahun kakakmu.”
Aku langsung tersenyum. “Oke.”
Aku masuk kamar, menutup pintu, badanku pun langsung melorot ke lantai. Kubenamkan wajahku di antara kedua kaki. Air mataku pun mulai keluar.
Elang Jagatra Adhiraja.
Kenapa dia harus sebrengsek ini di malam pertama kami?
***