Hanya butuh waktu tiga puluh menit sampai kami semua menandaskan bubur di mangkuk kami masing-masing. Harrison bahkan menghabiskan dua mangkuk tadi. Aku dan Arumi hanya bisa bergidik ketika melihat nafsu makan Harrison yang tampak mengerikan itu. “Sekarang jam berapa, Kez?” tanya Arumi setelah kami membayar makanan kami dan beranjak menjauhi gerobak penjual bubur ayam. “Hampir jam enam,” jawabku setelah melirik pada layar ponsel sekilas. “Kenapa?” lanjutku bertanya. “Nggaklah. Jadi, kita mau tetap di sini atau mau ke tempat lain?” tanya Arumi. “Tanggung kalau ke tempat lain. Di sini aja dulu, kita sewa tenda. Lagi pula, bentar lagi juga udah mau sunset,” jawab Yoga. “Santai aja dulu di sini, biar bubur di dalam perut gue turun dulu,” ujar Harrison menambahkan. “Ya, udah. Jalan santai