Suasana di ruang tamu dan ruang keluarga di mansion ini dpenuhi oleh undangan yang akan menyaksikan acara akad nikah San dan Amelia. Kedua ruangan itu memiliki luas yang cukup untuk menampung para undangan. Tamu-tamu penting hadir dan duduk di atas kursi-kursi elegan yang diatta sedemikian rupa. Sebuah meja persegi panjang, dihiasi bunga-bunga dan taplak moif yang dijahit dengan benang emas, menjadi pusat dari acara ini karena di sinilah ikrar akad nikah diucapkan. “Sah!” “Sah!” “Alhamdulillah.” Setelah dinyatakan sah, Sean refleks mengepalkan tangannya lalu mengusap wajahnya dengan tangannya yang masih gemetar. Raut lega tergambar jelas di wajahnya. Kini, dia sudah resmi menjadi suami Amelia, sekretarisnya yang ketus, jutek, dan selalu berkata pedas padanya, yang kini tengah duduk di