PROK! PROK! PROK! Suara tepuk tangan bergema di ruangan megah itu, membelah suasana pesta yang semula penuh musik dan tawa ringan. Semua orang terdiam, memalingkan pandangan ke arah sumber suara yang begitu mencolok. Matteo berdiri di tengah ruangan utama dengan jas hitamnya, seolah seluruh ruangan adalah panggung dan ia adalah bintang utama malam itu. Tatapan para tamu segera tertuju padanya. Beberapa dari mereka saling berbisik, beberapa lainnya pura-pura tidak peduli, tapi ketegangan mulai terasa di udara. Zenia yang tengah berdiri di samping seorang pengusaha paruh baya, membeku seketika. Matanya membulat, menatap Matteo yang perlahan berjalan mendekat sambil terus menepuk tangannya dengan tempo pelan namun penuh sindiran. “Lihatlah,” suara Matteo terdengar lantang, menembus kehe

