Zenia menata loyang dengan hati-hati, aroma manis dari adonan red velvet memenuhi seluruh dapur yang luas itu. Suasana rumah terasa sangat berbeda kali ini—tidak ada suara musik keras, tidak ada tawa kasar tamu-tamu Matteo, tidak ada teriakan menyuruh atau menghina dan tentunya si lelaki pembuat onar itu tidak ada sekarang. Hanya ketenangan yang mengisi setiap sudut ruangan. Zenia bahkan bisa mendengar suara burung dari taman belakang dan hembusan angin yang menerpa tirai tipis di dekat jendela. Dia tersenyum tipis sambil menatap oven, seperti menemukan sedikit kedamaian yang sudah lama tidak ia rasakan. Dalam hati kecilnya, Zenia tahu bahwa momen seperti ini langka—karena Matteo bisa kembali kapan saja, membawa badai yang mengacaukan lagi segalanya. Lelaki itu seperti iblis yang tak meng

