Zenia berdiri diam di depan cermin besar di ruang rias. Gaun pengantin berwarna putih gading itu melekat sempurna di tubuhnya. Potongannya sederhana, elegan, dengan detail renda halus di bagian lengan dan ekor gaun yang menjuntai anggun ke lantai. Tudung tipis menutupi rambutnya yang disanggul rapi. Tangannya gemetar saat menyentuh pantulan dirinya sendiri. “Aku… benar-benar menikah hari ini,” bisiknya lirih. Suara pintu diketuk pelan. “Zenia,” panggil seseorang dari luar. “Iya,” jawab Zenia pelan. Pintu terbuka dan wedding organizer mendekat dengan senyum hangat. “Sudah siap?” Zenia menelan ludah. “Aku gugup.” “Itu wajar,” jawab wanita itu lembut. “Semua pengantin merasakannya.” Zenia mengangguk, lalu kembali menatap cermin. Matanya berkaca-kaca. “Apa aku terlihat… baik?” tanyan

