49

557 Kata

Perjalanan menuju rumah baru mereka memnag sangat lama. Ditambah situasi jalan raya yang sangat padat. Makin membuat Lova semakin jenuh. "Kalau mau tidur, tidur saja. Nanti kalau udah sampai aku bangunkan," titah Rey yang masih fokus dengan bundaran setir dan jalan raya. Lova menoleh sekilas ke arah suaminya dan mengerjap pelan. Dalam hatinya mengumpat pelan, "Sial. Kenapa sih, dia bisa tahu semua perasaan Lova. Jangan -jangan di indigo. Ehh .. Indigo kan orang yang bisa lihat setan. Emang Lova setan? Terus apa ya?" Sesekali, Lova melirik ke arah Rey yang memang super tampan sekali. Seharusnya, Lova itu memnag bangga memiliki suami seperti dia. Sayangnya, dia terlalu gengsi mengakui di depan publik. Padahal beberapa orang dan rekanan dosne sudah tahu soal pernikahan mereka. "Kenapa lir

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN