Hari Itu. Rumah sakit jam lima subuh punya suasana yang berbeda dari jam-jam lainnya. Tidak ramai, tidak sepi. Lorong-lorongnya terang tapi tenang, suara langkah perawat terdengar lebih jelas dari biasanya, dan ada bau khas antiseptik yang entah kenapa justru terasa menenangkan di situasi seperti ini. Rey mendorong kursi roda dengan satu tangan. Tangan satunya memegang tangan Lova yang bertumpu di sandaran kursi. "Aku bisa jalan, Mas." "Kursi rodanya sudah ada di sini." "Itu bukan jawaban." "Duduklah, Lova." Lova duduk. Bukan karena tidak bisa jalan, tapi karena kadang lebih mudah memilih pertempuran mana yang worth it, dan ini bukan salah satunya. Di meja penerimaan, Rey sudah menyiapkan semua dokumen bahkan sebelum perawat selesai bertanya. KTP, kartu BPJS, buku kontrol, hasil USG

