Dira mengangguk kecil sambil tersenyum tipis. Hatinya kacau seklai. Malas menanggapi Rafly karena perasaannya yang terlalu cemburu. Tapi balik lagi, Rafly itu siapanya Dira? Dira dan Rafly tidak punya hubungan apa -apa. Kenal juga baru saja. Kenapa harus cemburu? Sebelum mengenal Dira, Rafly sudah banyak bertemu orang terlebih perempuan. Wajar kalau sekarang ia memiliki tambatan hati. Kenapa harus cemburu? Bukankah cemburu itu pertanda iri? Tidak mampu? "Sudah Pak Ustad," jawab Dira singkat lansung membaca kembali buku yang sedang ia pegang. Rafly mengambil posisi untuk duduk sambil menunggu yang lainnya. Sedangkan perempuan cantik itu duduk tak jauh dari Rafly. Jujur, Dira malas ada disana. Berasa menemani orang yang sedang memadu kasih. Tapi, ya sudahlah. Ini hari terakhir bagi Dir

