Dini hari, Nadia sudah terbangun lagi. Ia melihat jam weker yang masih menunjukkan arah jarum jam tepat pukul satu. Nadira mencoba untuk kembali memejamkan kedua matanya namun selalu gagal. Pikirannya masih tertuju pada anak lelaki Umi Aminah yang ternyata benar -benar tampan sekali. "Kalau tampan begitu. Dira ga perlu susah payah dibujuk oleh Mama untuk mengantarkan takjil. Sudah pasti dengan sennag hati, Dira pasti mau mengantarkan takjil ke pesantren kilat setiap sore," batin Dira yang masih membayangkan wajah Rafly. Maklum, anak gadis remaja jaman sekarang pikirannya hanya gebetan, cem -ceman dan takut jomblo. Tepat pukul tiga, Dira menyerah dan akhirnya memutuskan keluar dari kamarnya. Ia berniat berpuasa penuh hari ini. Biarlah hari kemarin ia tidak berpuasa dan gagal. Tapi mulai

