61

1009 Kata

Sejak siang itu, Utama menutup bibirnya dengan rapat. Ia tidak bicara sedikit pun. Menyapa Nayla pun tidak. Ijin Nayla pun sampai detik ini juga tidak di respon. Nayla ragu ingin berangkat karena tidak ada jawaban pasti dari Utama. Nayla butuh restu atas ijinnya. Kalau Utama cuma diam, gimana? Makan malam pun terasa sunyi sekali. Nayara duduk di dekat Kakek Mahesa yang diam dan Papa Utama yang juga diam serta dingin sekali raut wajahnya. Utama berangkat ke kantor sudah siang menjelang sore. Kira -kira baru dua jam, ia kembali lagi dengan sikap yang sama sekali tidak tenang seperti sedang gelisah. Makanan di piringnya pun hanay di acak -acak dengan sendok dan sama sekali tidak dimakannya. Nayla hanya menarik napas dalam. Beberapa kali Utama di ajak bicara, lelaki itu memilih diam. Sep

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN