50

762 Kata

Seharian ini, Denis tidak fokus dengan pekerjaan. Ia banayk melamun dan tumpukan berkas yang seharusnya selesai ia tanda tangani sama sekali tak tersentuh. Setiap ada sekertaris atau karyawan lain yang masuk ke ruangannay untuk meminta tanda tangan hanya ia suruh tumpuk di ujung meja. Sama sekali tidak dilirik oleh Denis. Pikirannay benar 0benar kacau. Surat dari Nayara semakin nmembuatnya galau teramat besar. "Apa kuceraikan saja? Eum ... Aku butuh bayi itu. Karena itu keturunanku. Lagi pula, selama ini, Nayara sudah menjadi istri yang baik dan penurut sekali. Tidak ada salahnya, dia menaruh kepercayaan besar pada Nayara. Tapi, masalahnya, saat ini Nayara dimana?" Batin Denis sambil memijta keningnya yang sama sekali tidak sakit. Tok ... Tok ... Tok ... "Permisi Pak Denis ... Ada tam

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN