28

1085 Kata

Denis cukup jelas mendengar ucapan Nayara walaupun lirih itu. Telinganya masih tajam untuk mendengar bisikan lirih sekalipun. Kedua matanya pun tetap lekat mengekor dua bola mata Nayara yang mulai terlihat gugup dan panik. Denis hanya ingin meluapkan perasaannya saat ini. Tangannya mulai terangkat dan menyentuh pipi Nayara yang tetap diam membeku. Nayara tak bisa mundur lagi. Tubuhnya terjebak oleh sofa yang ada di belakangnya. Senyum Denis terbit, wajahnya tak seserius tadi. Ibu jarinya mengusap pipi Nayara dengan lembut. Wajahnya semakin dekat dengan wajah Nayara. "Kamu takut padaku?" tanya Denis lirih. Nayara tetap diam. Hanya matanya yang tetap bergerak mencari celah untuk bisa pergi dari kungkungan Denis. "Kamu takut kan?" ucap Denis dengan nada lebih tinggi. Senyumnya menyerin

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN