Rasa haus adalah yang pertama kali aku rasakan begitu membuka mata. Aku menoleh, dan kulihat Mas Davka tertidur dengan posisi duduk sambil bersedekap. Aku tertegun selama beberapa saat. Ah, aku berada di rumah sakit? Perlahan aku berusaha bangun, tetapi gagal karena aku merasa agak nyeri di bagian bawah perut. Kini tanganku terulur untuk membangunkan Mas Davka. “Mas ... Mas Davka ...” Hanya dalam dua kali sentuhan pelan, Mas Davka sudah bangun. Dia tampak melebarkan mata selama beberapa saat, lalu buru-buru mendekat. “Kamu udah sadar, Ra? Apa yang kamu rasain? Sakit? Atau apa?” Aku tersenyum, lalu menggeleng. “Enggak papa, Mas. Cuma nyeri dikit sama agak pusing.” “Beneran?” “Iya, beneran. Aku pengen duduk, Mas.” Mas Davka segera menekan remote dan ranjangku otomatis naik

