Epilog

2201 Kata

“Anak Papa, selamat ya ...” Tangisku pecah ketika Papa langsung memelukku erat begitu aku keluar dari gedung tempat prosesi wisuda dilaksanakan. Pelukan ini tak kudapatkan ketika aku wisuda S1, jadi kali ini rasa harunya benar-benar luar biasa. “Makasih, Pa.” Papa masih terus memelukku sampai akhirnya aku mendongak. Papa tersenyum, lalu mengangguk. “Papa sudah berdamai dengan masa lalu, jadi Papa hanya akan fokus pada masa ini dan masa mendatang. Sekali lagi, selamat, ya?” “Iya, Pa. Makasih!” Setelah mendekap Papa sekali lagi, aku menoleh dan Mama langsung menyambutku. Tangisku tak kalah pecah ketika Mama memelukku tak kalah erat. “Mama bangga padamu, Ra. Dari dulu, sampai sekarang. Selamat, semoga ilmumu bermanfaat!” “Aamiin. Makasih banyak, Ma.” Mungkin ini terlihat terlalu dramat

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN