LIMA

1112 Kata
Mikaela meremang ketika sebuah tangan menelusup, kemudian berakhir dengan melingkari perutnya. “Kamu lapar?” Arkanu, sosok yang memeluk Mikaela itu, menjatuhkan dagu ke pundak asistennya. Jam diponselnya baru menunjukkan pukul setengah enam pagi ketika ia terjaga dan tak menemukan Mikaela di ranjangnya. “Mau saya pesankan makanan?” Kemarin, jadwal makan Mikaela dikacaukan oleh desakan hasrat Arkanu yang liar. Atasan Mikaela itu benar-benar merealisasikan ancamannya— dengan membuat Mikaela menjeritkan namanya dalam setiap desahan yang mengiringi tiga ronde percintaan mereka. Lalu, disaat Mikaela bisa mengisi perutnya, serangan mual terus saja mengganggunya, menjadikan tubuhnya begitu lemah hingga ia memilih untuk mengistirahatkan diri dengan Arkanu yang memeluk posesif dirinya. “Pak..” Pekik Mikaela tertahan, sebab jemari Arkanu merambat naik, mengusap sebelah gundukan yang lantas menegang karena remasan tiba-tiba sang atasan. “Saya menginginkan kamu lagi pagi ini,” bisik Arkanu, menggelinjangkan diri Mikaela. “Tolong, tidak lagi, Pak. Saya masih harus bekerja.” Benar, meski telah dinikahi, pernikahan mereka tak lantas menggugurkan kewajibannya. Ia adalah istri yang disembunyikan dan khalayak umum hanya akan mengetahui dirinya sebagai asisten pribadi atasannya. “Sebentar saja.” Tawar Arkanu dengan suaranya yang mulai memberat. Pria itu berjanji tidak akan lama. Ia akan bermain cepat, sekedar untuk menidurkan miliknya yang mengeras karena melihat penampilan menggugah selera wanita di hadapannya. Termakan kata-kata Arkanu, Mikaela pun menyerahkan kembali dirinya. Namun, ‘sebentar,’ yang Arkanu sebutkan, nyatanya tak berjalan sesuai dengan janji manisnya. Percintaan itu berlangsung lama. Cukup lama sampai-sampai keduanya berpindah dari satu tempat, ke tempat lainnya. Entahlah, Arkanu tidak pernah bisa merasa cukup jika itu dengan Mikaela. Sekarang pun, ia masih ingin melakukannya lagi. Mengurung Mikaela seharian penuh agar wanita itu terlihat kepayahan dibawah kendali api gairahnya. “Kamu yakin bisa bekerja?” “Ya, Pak.” Arkanu melirik Mikaela yang tengah mengenakan pakaian kerjanya. Sial! Sesuatu di dalam dirinya meronta. Menyuruhnya untuk menarik asistennya itu agar kembali masuk ke dalam bilik kamar mandinya. “Saya yang sepertinya tidak bisa bekerja.” Lontar Arkanu, membuat Mikaela memekikkan tanya, “ya?” “Tidak apa-apa. Anggap saja kamu tidak mendengar. Cepat pakai pakaian kamu, lalu pasangkan dasi saya.” Apa yang sebenarnya terjadi? Arkanu sendiri tidak mengerti. Selama ini Arkanu tidak pernah bertindak impulsif dalam menentukan pilihan. Ia selalu melakukan sesuatu dengan pemikiran yang matang. Menimbang baik-buruk hal agar tidak mengganggu kestabilan jalannya dalam mewarisi kebesaranan nama keluarganya. Namun Mikaela— dia adalah pengecualian yang sejak awal memang mengganggu ketenangan jiwanya. Wanita itu hadir untuk membangkitkan apa yang tak seharusnya bangkit hingga berhasil mengacaukan tatanan hidupnya. “Sekali lagi..” Arkanu menarik Mikaela ke pangkuannya ketika ia sendiri menjatuhkan dirinya ke pinggiran ranjang. “Kali ini benar-benar hanya sebentar.” Ucapnya, sebelum kemudian membungkam Mikaela dengan ciuman agresifnya. * * Prak!! Arkanu memejamkan mata kala stick golf yang ia biasa gunakan, dihantamkan keras, mengenai kaki meja kerjanya. “Kamu pikir Papi akan termakan karangan fiktif kamu kemarin? IYA?!” Pria paruh baya yang seharusnya duduk nyaman di lantai tertinggi gedung perusahaan keluarganya itu, membuka pintu ruang kerja putranya ketika sang putra tengah mencumbu mesra asisten pribadinya. “Persetan dengan wanita itu hamil anak siapa, segera lenyapkan janin di rahimnya dan singkirkan dia dari perusahaan ini.” Arkanu yang semula diam menerima amarah papinya, membuka suaranya, tenang. “Aku sudah menikahinya.” Ia mengenal papinya seperti pria paruh baya itu mengenalnya. Papinya tak mungkin hanya berdiam dengan menelan mentah-mentah alasannya tanpa mengerahkan tim pencari informasi yang dimilikinya. “Menikah kamu bilang?!” Prang! Bugh! Genggaman tangan yang melepaskan stick golf itu berubah menjadi pukulan yang menyasar ke wajah tenang Arkanu. “Sejak kapan kamu menjadi sebodoh ini, Hah?! Papi tidak masalah dengan kamu yang menjadikan asistenmu itu sebagai mainan. Tapi menghamilinya? Jangan melucu! Diprojo sudah memilih Elea karena hanya wanita itu yang sebanding dengan keluarga kita!” Adyaksa (Aksa) Diprojo, menatap tajam miniaturnya saat muda. Ia tahu kehamilan asisten putranya adalah sesuatu yang putranya rencanakan. Putranya tidak akan sebodoh itu melupakan pengaman ketika ia sedang bermain-main dengan para wanitanya. “Hentikan kebodohanmu, Ar. Jangan berpikir kamu bisa memenangkan anak itu, karena kalian berasal dari wanita yang berbeda.” Aksa memutar tubuhnya. “Bahkan dengan latar belakang yang seperti itu, Mamimu tetap tidak diizinkan masuk ke dalam lingkaran keluarga kita. Sudahi saja sebelum perut wanita itu semakin membesar.” Tuturnya, lalu melangkah keluar, meninggalkan Arkanu yang terdiam dalam kemelut pikirannya. Tiba di depan meja sekretaris tempat dimana keponakannya bertugas, Aksa menatap nyalang diri Mikaela yang berdiri memberinya bungkukan kepala, tanda penghormatan. “Kirimkan segera surat pengunduran diri kamu. Saya tidak ingin melihat kamu ada sekitar anak saya.” “Baik, Pak. Akan saya kirimkan setelah saya selesai mencetaknya.” Mikaela menjawab, tak menunjukkan sedikit pun keraguan pada nada suaranya. Tanggapannya yang ringan, mengganggu ketenangan diri Aksa. Dari sana, hanya satu yang terlintas dalam benak pria paruh baya itu. ‘Kegilaaan anaknya.’ Kegilaan yang turun pekat melalui darahnya, dan menyeret satu lagi perempuan tak bersalah, yang keberadaannya tak mungkin dapat diterima. Meski begitu, Aksa tetap akan menyingkirkannya. Seperti perkataannya, wanita dihadapannya ini berbeda. Sekalipun ia membawa darah Diprojo di dalam rahimnya, anak yang ia lahirkan, tak akan pernah menapaki jalan yang sama dengan putranya. “Temui saya ketika kamu sudah mencetaknya.” Aksa berlalu, meninggalkan Mikaela yang lantas terduduk lemah, kehilangan daya penopang tubuhnya. Hatinya menjerit bahagia ditengah rasa lelah yang mendera raganya. Akhirnya.. Akhirnya ia bisa terlepas dari jerat hasrat gila yang mengekang kebebasannya. “Ck, padahal kupikir Bu Mika nggak akan mungkin goyah. Yah, manusiawi-lah. Saya kalau jadi Ibu juga nggak akan mungkin bisa nggak khilaf, kalau yang ngajakin tidur bentukannya kayak Mas Arkan.” Pernyataan Dewita, Mikaela balas hanya dengan senyuman. Ia baru saja akan meninggalkan meja sekretaris ketika pintu ruang kerjanya bersama sang atasan terbuka dari dalam. “Kamu ikut saya pulang. Pekerjaan hari ini, kita lakukan saja dari apartemen saya.” Arkanu menghentikan langkahnya saat tak merasakan pergerakan Mikaela yang seharusnya mengekori dirinya. “Kenapa masih disana?! Ikuti saya, Mikaela!” sentak Arkanu, sayangnya tetap tak menggerakkan kaki-kaki jenjang Mikaela. “Mohon maaf, Pak. Tapi saya masih harus mencetak surat pengunduran diri saya. Saya harus segera menyelesaikannya karena Pak Adyaksa menunggu di atas.” Ketenangan diri yang Arkanu coba tarik kembali dengan susah payah menghilang. Matanya berkilat marah mengetahui jika Mikaela telah berani mengambil keputusan tanpa persetujuan darinya. Dengan gerakan yang begitu cepat, Arkanu berada di hadapan Mikaela. Pria itu mengapit dagu Mikaela dengan ibu jari dan telunjuknya. “Dengar ini, Mikaela. Selain menjadi asisten saya, jangan lupakan status kamu yang sudah menjadi istri saya. Kamu tidak boleh melakukan apapun tanpa persetujuan saya. Tidak peduli perintah itu datang dari siapa, semua harus se-atas izin saya. Sekarang, buat kaki kamu melangkah, atau saya seret kamu secara paksa!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN