Jarum jam di dinding ruang manajer pemasaran terus bergerak perlahan, namun bagi Elmira rasanya berlari kencang. Tumpukan kertas kosong sudah berubah menjadi beberapa lembar catatan dengan tulisan tangannya yang tidak rapi. Meski sudah berusaha keras menulis, wajah Elmira tetap terlihat frustrasi. Di depannya, laptop menyala menampilkan dokumen baru yang masih berantakan. Kalimat-kalimat yang ia ketik seringkali dihapus, diganti, lalu dihapus lagi. “Kenapa rasanya semua salah?” gumam Elmira, menatap layar dengan dahi berkerut. Ia mencoba mengingat kembali makan siang mereka tadi, pasta dengan saus tomat yang kaya rasa, pelayanan cepat tapi formal, suasana restoran yang elegan tapi tidak kaku. Elmira mengetik cepat: [Pelayanannya ramah, makanan enak, tempatnya bagus.] Kemudian ia mengha

